Sunday, May 27, 2012

ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN NY. L DENGAN ROBEKAN PERINEUM TINGKAT II


ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN NY. L
DENGAN ROBEKAN PERINEUM TINGKAT II

BAB I
PENDAHULUAN

1.1          Latar Belakang
Perineum merupakan bagian yang sangat  penting dalam fisiologi. Keutuhan perineum tidak hanya berperan atau menjadi bagian penting dari proses persalinan, tetapi juga diperlukan untuk mengontrol proses buang air besar dan buang air kecil, menjaga aktifitas peristaltik normal (dengan menjaga tekanan intra abdomen) dan fungsi seksual yang sehat.
Robekan perineum terjadi hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan ini dapat dihindarkan atau dikurangi dengan menjaga tidak sampai dasar panggul dilalui kepala janin dengan cepat.  Sebaliknya kepala janin yang akan lahir tidak ditahan terlampau kuat dan lama karena menyebabkan asfiksia perdarahan dalam tengkorak janin dan melemahkan otot-otot dan kasia pada dasar panggul karena direnggangkan terlalu lama.
Selama praktik di BPS terdapat 1 kasus  dari 6 kasus ibu bersalin dengan robekan perineum sehingga penulis tertarik mengambil judul asuhan kebidanan pada Ny. L bersalin kala IV dengan robekan perineum di BPS.

1.2          Tujuan
1.      Tujuan Umum
Melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan robekan perineum dengan  pendekatan manajemen varney dan pendokumentasian SOAP.
2.      Tujuan Khusus
a.       mengidentifikasi data pada ibu bersalin dengan robekan perineum pada Ny. L
b.      Menginterpretasikan data untuk menegakkan diagnosa masalah kebidanan pada ibu bersalin dengan robekan perineum pada Ny. L
c.       Menegakkan diagnosa dan masalah potensial pada ibu bersalin dengan robekan perineum pada Ny. L
d.      Mengidentifikasi kebutuhan akan tindakan segera pada ibu bersalin pada Ny. L dengan robekan perinium.
e.       Merencanakan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan robekan perineum pada Ny. L
f.       Melakukan tindakan Asuhan Kebidanan  pada ibu bersalin dengan robekan perineum pada Ny. L
g.      Mengevaluasi setelah dilakukan tindakan menyeluruh pada ibu bersalin dengan robekan perineum pada Ny. L

1.3          Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif yaitu metoda pengumpulan data, pengelompokan data, analisa data dan menarik kesimpulan dari pokok bahasan. Tehnik pengumpulam data oleh penulis antara lain
a.       Wawancara yaitu
Dalam pembuatan makalah ini penulis melakukan anamnese dan tanya jawab langsung kepada pasien dan keluarga untuk mengetahui data subyektif.

b.      Study Perpustakaan yaitu :
Dalam pembuatan makalah ini penulis mendapatkan referensi            dari berbagai sumber yang berhubungan dengan study kasus ini.
c.       Observasi yaitu :
Penulis melakukan observasi langsung untuk memperoleh data obyektif.
d.      Dokumentasi yaitu :
Pengumpulan data dengan cara melakukan pencatatan mengenai data – data yang didapat selama praktek di BPS Baitussalam..

1.4          SISTIMATIKA PENULISAN
Makalah ini disusun secara sistimatika terdiri dari :
BAB I         PENDAHULUAN                 :     Terdiri dari Latar belakang, Tujuan, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB II        TINJAUAN PUSTAKA        :     Terdiri dari Konsep medis,  Konsep asuhan kebidanan.
BAB III      TINJAUAN KASUS             :     Terdiri dari Pendokumentasian Dengan Sistem SOAP.
BAB IV      PEMBAHASAN                    :     Meliputi Pengkajian, Diagnosa, Perencaan,       Pelaksanaan dan Evaluasi.
BAB V        PENUTUP                              :     Kesimpulan dan saran.
DAPTAR PUSTAKA
LAMPIRAN





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Konsep Medis
2.1.1        Pengertian
a.       Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37 – 42 minggu) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin.
b.      Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup di dalam uterus melalui vagina ke dunia luar.
c.       Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri) yang telah cukup bulan / dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan
d.      Persalinan adalah proses persalinan bayi dengan ibu sendiri tanpa bantuan, alat, obat-obatan serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam
e.       Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya srevik dan janin turun kedakam jalan lahir


2.1.2. Patofisiologi
Kehamilan  aterm
Proses persalinan
Penyebab terjadinya robekan perineum















Keterangan :
Kehamilan aterm menyebabkan persalinan. Dalam proses persalinan terkadang akan terjadi robekan perineum yang disebabkan oleh beberapa faktor dan umumnya digaris tengah dan bisa menjadi luas  yaitu apabila kepala janin lahir terlalu cepat. Sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasanya, sehingga kepala janin terpaksa lahir lebih ke belakang daripada biasa, kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkum ferensia SOB, atau anak dilahirkan dengan pembedahan vaginal (episiotomi).

2.1.3.      Fisiologi Persalinan
Dibagi dalam empat kala  yaitu :
a.      Kala I
Yaitu waktu untuk pembukaan serviks sampai pembukaan lengkap 10 cm . Kala satu dibagai 2 fase yaitu :
Fase laten : Pembukaan serviks berlangsung lambat sampai pembukaan 3 cm berlangsung kurang lebih 7-8 jam.
Fase Aktif: Dibagi 3 fase lagi yaitu :
·         Fase akselerasi berlangsung 2 jam pembukaan menjadi 4 cm
·         Fase Dilatasi maksimal berlangsung 2 jam pembukaan berlangsung cepat menjadi  9 cm.
·         Fase deselerasi berlangsung 2 jam pembukaan menjadi 10 cm atau lengkap.
Pada primigravida ostium uteri internum akan membuka lebih dahulu sehingga serviks akan mendatar dan menipis baru ostium uteri eksternum membuka, Kala I berlangsung 13 –14  jam.
Pada multigravida ostium internum sudah sedikit membuka dan ostium internumdan eksternum serta penipisan dan pendataran serviks terjadi dalam saat yang sama. Kala I berlangsung 6 – 7 jam.

b.      Kala II
Pada kala II his menjadi lebih kuat  dan lebih cepat kira-kira 2 –3 menit sekali. Karena kepala sudah masuk diruang panggul serta reflektoris menimbulkan rasa mengedan, kemudian Perineum menonjol menjadi lebih lebar dan anus membuka. Labia mulai membuka dan tidak lama kemudian kepala janin tampak dalam vulva pada waktu his. Bila dasar panggul sudah berelaksasi, kepala janin tidak masuk lagi diluar his dengan his dan kekuatan mengedan maksimal kepala janin dilahirkan. Setelah istirahat sebentar his timbul lagi untuk mengeluarkan badan dan anggota bayi. Pada primi kala II berlangsung 1 jam dan multi 30 menit..
c.       Kala III
Setelah bayi lahir, uterus teraba keras dengan fundus uteri agak diatas pusat. Beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 5- 15 menit setelah bayi lahir. Setelah plasenta  lahir lakukan masase fundus, cek kelengkapan plasenta, cek perdarahan dan cek robekan perineum/ jalan lahir.
d.      Kala IV
Adalah setelah plasenta lahir sampai dua jam post partum. Sebelum meninggalkan ibu terlebih dahulu periksa :
f.       Kontraksi uterus
g.      Perdarahan
h.      Kandung kemih
i.        Keadaan umum ibu
j.        Kaadaan umum bayi
Tanda – tanda timbulnya persalinan (Inpartum)
1.      His
Adalah kontraksi rahim yang dapat diraba dan menimbulkan rasa nyeri di perut serta menimbulkan pembukaan serviks.
2.      Show
Adalah keluar darah bercampur lendir, hal ini disebabkan oleh robeknya pembuluh darah sewaktu serviks membuka.
3.      Dilatasi dan effesement
Dilatasi adalah terbukanya kanalis servikalis secara berangsur angsur akibat pengaruh his.
Effesement adalah pendataran atau pemendekan kanalis servikalis yang semula panjang 1-2 cm menjadi hilang sama sekali.

2.1.4.      Robekan Perineum
a.       Robekan perineum:robekan yang terjadi pada    perineum sewaktu persalinan.
b.      Robekan perineum terjadi hampir semua persalinan pertama, dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya (Prawirohardjo, 1999).
c.       Robekan perineum adalah kerusakan pada jaringan lemak akibat daya regang yang melebihi kapasitas adaptasi atau elastisitas jaringan tersebut..

Robekan perineum dibagi 4 tingkat / derajat :
Tingkat I        :     Robekan terjadi hanya pada selaput lendir vagina, fourchette posterior dengan atau tanpa mengenai kulit perineum.
Tingkat II      :     Robekan mengenai mukosa  vagina,   fourchette posterior, kulit perineum, hingga otot perineum.
Tingkat III     :     Robekan mengenai seluruh  perineum sampai mengenai  otot- otot sfingter ani.
Tingkat IV     :     Robekan terjadi yang mengenai mukosa vagian, fourchette posterior, kulit perineum, otot-otot perineum, otot spinter ani eksternal dan dinding rektum anterior..

2.1.5.      Faktor – faktor yang mempunyai hubungan dengan trauma perineum dalam persalinan :
a)           Posisi tubuh saat persalinan : posisi jongkok dapat mengurangi besarnya kerusakan pada perineum, disebabkan karena posisi kepala janin lebih baik terhadap perineum dan kala II yang lebih pendek. Dengan pendeknya proses kala II maka bagaian bawah janin lebih singkat berada di perineum sehingga peluang terjadinya trauma dan perlukaan menurun.
b)           Episiotomi : banyak disebut sebagai cara untuk mengurangi perluasan luka perineum pada persalinan, tapi sekarang tidak digunakan lagi kecuali sesuai indikasi 
Macam-macam episiotomi :
1.          Episiotomi mediana, dikerjakan pada garis tengah keuntungannya tidak menimbulkan perdarahan banyak dan penjahitan kembali lebih mudah, sehingga sembuh perprimam dan hampir tidak berbekas dan bahayanya dapat menimbulkan ruptura perinetotalis.
2.          Episiotomi mediolateral, dikerjakan pada garis tengah yang dekat muskulus sfingter ani dan diperluas ke sisi.
3.          Episiotomi lateral, dikerjakan pada sisi perineum.
 2.1.6.  Tatalaksana ibu bersalin dengan robekan perineum tingkat II
A.    Persiapan alat
1.      Siapkan alat untuk melakukan penjahitan
- Wadah DTT berisi : Sarung tangan, pemegang jarum jahit, jarum jahit, benang kronik / cat gut No. 2/0 atau 3/0, kasa steril dan pinset.
- Pavidone
- Buka spuit sekali pakai 10 cc jatuhkan dalam wadah DTT
- Patahkan ampul lidokain (tanpa epineprin) sesuaikan dengan perkiraan luas luka.
2.      Atur posisi bokong ibu pada posisi litotomi dari tepi tempat tidur.
3.      Pasangi kain bersih dibawah bokong ibu
4.      Atur lampu sorot kearah vulva / perineum ibu
5.      Pastikan tidak memakai perhiasan
6.      Pakai sarung tangan DTT pada tangan kanan
7.      Gunakan kasa steril, bersihkan vulva dan perineum dengan larutan povidon lodine dengan gerakan satu arah tunggu selama 2 menit sebelum penyuntikan lidokain 1 %.
B.     Anestesi lokal
1.      Beritahu ibu akan disuntik yang akan terasa nyeri dan menyengat.
2.      Tusukan jarum pada ujung luka robekan perineum dan secara sub kutis sepanjang tepi luka.
3.      Lakukan aspirasi untuk memastikan tidak ada darah yang terhisap.
4.      Suntikan anestesi sambil menarik jarum pada tepi luka perineum tanpa menarik keluar dari luka.
5.      Lakukan langkah No. 2 – 5 diatas kedua tepi robekan
6.      Tunggu 1 – 2 menit sebelum melakukan penjahitan untuk mendapatkan hasil optimal dari anestesi lokal.
C.     Penjahitan robekan perineum
1.      Lakukan inspeksi vagina dan perineum untuk melihat robekan
2.      Jika ada perdarahan yang menutupi luka, pasang tampon / kasa ke dalam vagina.
3.      Pasang jarum jahit pada mata jarum
4.      Tentukan dengan jelas batas luka robekan perineum
5.      Jika ujung otot sfingter ani terpisah karena robekan, jepit /klem dengan menggunakan pean lurus.
6.      Kemudian tautkan ujung otot sfingter ani dengan melakukan 2 – 3 jahitan angka 8 sehingga bertemu kembali.
7.      Selanjutnya lakukan tindakan jahitan lapis demi lapis seperti biasa.
8.      Lakukan pemeriksaan ulang: pastikan perdarahan dari robekan dapat diatasi, kontrol perdarahan di sekitar vulva dan vagina, bersihkan daeraha Perineum dan sekitarnya dengan kapas antiseptik.
9.      Dekontaminasi pasca tindakan yaitu alat dan ruangan
10.  Cuci tangan dengan cara tujuh langkah.

2.2    Konsep Asuhan Kebidanan
2.2.1        Pengkajian
A.    Identitas / Biodata
Nama              :  Untuk membedakan pasien yang satu dengan yang lain, memudahkan mengidentifikasi dan mengenal pasien.
Umur              :  Untuk menentukan prognosa kehamilan, kalau umur terlalu lanjut / terlalu muda maka persalinan lebih banyak berisiko.
Suku/bangsa   :  Untuk menentukan adat istiadat / budayanya.
Agama            :  Untuk menentukan bagaimana kita memberikan dukungan kepada ibu selama proses persalinan.
Pendidikan     :  Untuk menentukan bagaimana kita memberikan konseling.
Pekerjaan        :  Untuk mengetahui status sosial ekonominya dan untuk mengetahui beban kerjanya. Untuk ibu hamil tidak boleh bekerja terlalu berat.
Alamat           :  Untuk memudahkan tenaga kesehatan untuk menghubungi klien apabila terjadi sesuatu.
B.     Anamnesa
1.      Tgl / jam :.................
Untuk mengetahui kapan klien datang dan mendapatkan pelayanan.
2.      Alasan masuk kamar bersalin
Pada kasus  bersalin dengan robekan perineum Ibu mengatakan merasa hamil 9 bulan dengan keluhan mules-mules yang kuat semakin lama semakin sering dan teratur / dan keluar lendir bercampur darah..
3.      Tanda-tanda bersalin
Terdapat his yang efektif yaitu his dominasi kontraksi uterusnya berada pada fundus uteri, kontraksi yang berlangsung secara sikron dan harmonis iramanya teratur dan frekuensinya dalam 10 menit terjadi 2 – 3 kali berlangsung 20 – 60 detik
4.      Pengeluaran pervaginam
Blood show yaitu darah bercampur lendir dimana pengeluaran darah tersebut disebabkan oleh robeknya pembuluh darah membuka.
5.      Masalah-masalah khusus
Pada kasus persalinan normal, tidak ditemukan adanya masalah-masalah yang menyertai kehamilan maupun persalinan.
6.      Riwayat kehamilan sekarang
HPHT       : Untuk menghitung usia kehamilan dan mengetahui taksiran persalinan.
ANC :  teratur atau tidak untuk mendeteksi secara dini kemungkinan adanya komplikasi pada kehamilan
      Riwayat menstruasi 
-    Menarche          : Biasanya ditemukan pada usia 12 – 16  tahun pada kasus ini ibu mengalami menarche 13 tahun.
- Siklus               : Siklus menstruasi yang normal adalah 28 –  
                              31 hari
- Konsistensi      : normal, encer, 2 kali ganti pembalut.
7.      Riwayat Imunisasi
Pada ibu hamil sebaiknya mendapatkan imunisasi TT 2x, dengan interval 4 minggu . untuk mencegah tetanus neonatorum.

8.      Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu :
Apakah sebelumnya klien pernah hamil, jika pernah       apakah ditemukan riwayat kehamilan, persalinan yang berisiko.
9.      Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir
Pergerakan janin yang normal, minimal 1x pergerakan dalam  1 jam atau kurang dari 20 X dalam 24 jam.
10.  Makan dan minum terakhir
Mengetahui kapan ibu makan dan minum yang terakhir kali guna untuk menambah tenaga ibu saat bersalin dan mencegah dehidrasi.
11.  BAB dan BAK terakhir
Untuk kenyamanan ibu saat bersalin, selama persalinan ibu harus berkemih paling sedikit setiap 2 jam sekali / lebih jika terasa ingin berkemih.
12.  Istirahat dan tidur
Untuk mengetahui apakah ibu cukup istirahat atau tidak
                          13. Psikologi
Rasa takut dapat menambah perasaan nyeri, orang takut otot-ototnya tegang termasuk otot serviks hingga dapat mengganggu pembukaan. Ketegangan jiwa dan badan juga menyebabkan ibu cepat lelah.
C.     Pemeriksaan Fisik (Data Obyektif)
1.      Keadaan umum : Baik,
2.      Keadaan emosional : stabil.
3.      Tanda-tanda vital
a.       Tekanan darah normal : 120/80 mmHg – 140/90 mmHg
b.      Nadi normal : 80 – 100 x/menit
c.       Pernafasan normal : 16 – 24 x/menit
d.      Suhu normal : 36,50 C – 37,50 C

4.      TB dan BB
a.       Pada ibu hamil tinggi badan normal tidak boleh < 145 cm
b.      Pada ibu hamil penambahan berat badan ± 11,5 kg
·         Triwulan I penambahan     : ± 1 kg
·         Triwulan II penambahan    : ± 5 kg
·         Triwulan III penambahan  : ± 5,5 kg
5.      Pemeriksaan Fisik (Inspeksi)
a.         Kepala :
* Rambut                   : bersih tidak rontok
* Ketombe                 : tidak ada      
b.      Muka          : Tidak ada cloasma gravidarum tidak pucat dan tidak oedema.
c.       Mata           : Tidak ada oedema pada kelopak mata, konjungtiva warna merah muda sklera tidak kuning.
d.      Mulut dan bibir : Tidak ada stomatitis bersih tidak kering
e.       Gigi            : Tidak ada caries
f.       Leher          : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan kelenjar tiroid.
g.      Dada          : Tidak ada kelainan
h.      Jantung       : Iramanya teratur
i.        Paru-paru    : Ronchi negatif, Whezeeng negatif
j.        Payudara    : Tidak ada pembengkakan
Puting susu menonjol
Bentuk simetris
Ada pengeluaran colostrum sedikit
Tidak ada benjolan
Tidak ada nyeri


k.      Punggung dan pinggang :  Posisi tulang belakang normal, tidak ada kelainan, biasanya pada ibu hamil posisi tulang belakangnya lordosis dan tidak ada nyeri ketuk.
l.        Abdomen     :   Pembesaran sesuai umur kehamilan, tidak ada benjolan, tidak ada luka bekas operasi, konsistensi keras dan tidak ada pembesaran lien / liver, linea nigra.
6.      Pemeriksaan Kebidanan
§   Palpasi
Leopold I    : Untuk menentukan usia kehamilan dan  bagian apa yang ada di fundus uteri.
     Leopold II      : Untuk menentukan letak punggung janin        (puka/puki) dan apa  bagian-bagian terkecil janin.
     Leopold III    : Untuk menentukan bagi terendah janin dan apakah bagian bawah anak ini sudah / belum masuk oleh PAP pada kasus persalinan normal bagian terendah janin adalah kepala, sifatnya keras, bundar dan melenting dan biasanya kepala sudah terpegang oleh PAP.
 Leopold IV   :Untuk mengukur seberapa jauh bagi terendah janin masuk PAP dengan menggunakan cara perlimaan.
§   Auskultasi
a.       DJJ normal : 120 – 160 x/menit
b.      Frekuensi : teratur
c.       Punctum : sebelah kanan / kiri bawah pusat.
§   Perkusi :
Pada kasus persalinan normal reflek pattela pada kedua sisi normal / posisi.
                                      Punggung dan pinggang
§  Posisi tulang belakang         : lordosis
§  CVAT KA/KI                     : nyeri ketuk tidak ada
- Ekstrimitas atas bawah
§  edema                                  : tidak ada
§  Varices                                : tidak ada
§  Refleks patela                     : Ka/Ki +/+
- Anogenital
·         Perineum       : Luka parut : Tidak ada
·     Vulva / vagina : Pembuluh darah dinding vagina bertambah, hingga warna selaput lendir membiru (chadwick)          
                     Luka            : Tidak ada
                     Varises        : Tidak ada
                     Kistula         : Tidak ada
                     Pengeluaran : Lendir + darah
                                            Warna : Merah muda
                                             Jumlah : Sedikit
·         Kelenjar bartholini : Tidak ada pembengkakan
·         Anus : Tidak ada hemoroid.
                                Pemeriksaan dalam :
·         Dinding vagina : Lunak
·         Portio  : Tipis / Tebal
·         Posisi : Portio : Ante fleksi
·         Pembukaan    : Fase laten : 1 – 3 cm
                                      Fase aktif : 4 – 10 cm


·         Ketuban        : Utuh / pecah
      Jika pecah : Lihat warna dan jumlahnya
·         Presentasi janin : UUK, UUB, bokong
·         Penurunan     : H I     :  Sejajar dengan PAP
                                           H II       : Sejajar H I melalui pinggir bawah simpisis.
                                             H III    :   Sejajar H I melalui spina isciadica
                                             H IV    :   Sejajar H I melalui ujung os cocyges.

7.  Uji diagnosis
1.      Darah : Hb normal ibu hamil : > 11 g %
2.      Golongan darah A, B, AB, O penting untuk mempersiapkan menghadapi komplikasi yang memerlukan transfusi darah.
3.      Urine : Reduksi dan protein urine : mengetahui apakah ibu menderita DM, pada persalinan normal tidak ditemukan ada protein pada urin.

2.2.2        Interprestasi Data
Diagnosa : G.....P.....A........Kala .....dengan robekan perineum derajat .....
Dasar        : a.  Kelahiran bayi
b.      Robekan perineum
c.       Masa post pertum
Masalah    : Nyeri robekan jalan lahir
Kebutuhan : Konseling dan tindakan lebih lanjut
2.2.3        Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Potensial perdarahan, infeksi, nekrosis.
2.2.4        Identifikasi Kebutuhan akan Tindakan Segera / Kolaborasi
Penanganan perdarahan dan penjahitan robekan jalan lahir.

2.2.5        Rencana Asuhan
Kala I
a. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan yang telah dilakukan
b. Observasi kemajuan persalinan
c. Observasi tanda-tanda vital dan K/U
 d. Berikan dukungan kepada ibu dan keluarga
                    e. Jelaskan kepada ibu dan keluaraga tentang kemajuan persalinan
                        dan berikan ibu makan dan minum sesuai kemauan ibu.
f.  Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin
                    g.  Anjurkan suami / keluarga untuk mendampingi selama proses          
                         persalinan
                    h.  Atur posisi ibu senyaman mungkin
  i. Siapkan alat pertus set dan peralatan lain.
Kala II
 a. Berikan dukungan kepada ibu dengan mendampingi ibu agar
     merasa nyaman dan yakin pada diri sendiri.
 b. Berikan cukup makan dan minum untuk memberikan tenaga dan
      mencegah dehidrasi
 c. Ajarkan ibu tehnik meneran yang benar
 d. Atur posisi mengedan
 e. Observasi K/U. TTV, kontraksi uterus, dan DDJ setiap selesai his.
 f. Memberi tahu ibu tentang tindakan yang akan dilakukan
 g. Lakukan episiotomi apabila ada indikasi
h.      Pimpin ibu meneran setiap ada his.
Kala III
a. Cek kandung kemih, apabila blas penuh anjurkan ibu kencing bila
    tidak bisa lakukan katerisasi.
b. Lakukan manajemen kala III yaitu : Suntik axitosin 10 iu (im), Lakukan PTT, setelah ada tanda- tanda pelepasan plasenta dilahirkan sesuai prosedur, kemudian lakukan masase uterus hingga berkontraksi
Cek adanya perdarahan dan robekan perineum dan kontraksi  uterus
Kala IV
- Jahit luka perineum dengan anestesi
- Bersihkan perineum dan bagian yang kotor pada ibu dan kenakan pakaian yang bersih.
- Observasi TTV dan kandung kemih, kontraksi uterus, TFU, dan   perdarahan selama 2 jam (15 menit pada 1 jam pertama dan 30 menit pada 1 jam kedua).
- Berikan cukup makan dan minum
- Anjurkan ibu untuk istirahat senyaman mungkin
- Anjurkan ibu untuk segera menyusukan bayinya sedini mungkin
- Lakukan teknik bonding attachement.
yang telah diuraikan pada langkah perencanan dilaksanakan secara Penatalaksanaan  Asuhan Kebidan pada robekan perineum:
A.    Persiapan alat
1. Siapkan alat untuk melakukan penjahitan
- Wadah DTT berisi : Sarung tangan, pemegang jarum jahit, jarum jahit, benang kronik / cat gut No. 2/0 atau 3/0, kasa steril dan pinset.
- Pavidone
- Buka spuit sekali pakai 10 cc jatuhkan dalam wadah DTT
- Patahkan ampul lidokain (tanpa epineprin) sesuaikan dengan perkiraan luas luka.
2. Atur posisi bokong ibu pada posisi litotomi dari tepi tempat  tidur.
3  Pasangi kain bersih dibawah bokong ibu
4. Atur lampu sorot kearah vulva / perineum ibu
5. Pastikan tidak memakai perhiasan
6. Pakai sarung tangan DTT pada tangan kanan
7. Ambil spuit sekali pakai 10 ml dengan tangan yang bersarung tangan isi spuit dengan lidokan 1 % tanpa epineprin dan letakkan kembali ke dalam wadah DTT.
8. Lengkapi pemakaian sarung tangan pada kedua tangan
9. Gunakan kasa steril, bersihkan vulva dan perineum dengan larutan povidon lodine dengan gerakan satu arah tunggu selama 2 menit sebelum penyuntikan lidokain 1 %.
B.Anestesi lokal
11.  Beritahu ibu akan disuntik yang akan terasa nyeri dan menyengat.
12.  Tusukan jarum pada ujung luka robekan perineum dan secara sub kutis sepanjang tepi luka.
13.  Lakukan aspirasi untuk memastikan tidak ada darah yang terhisap.
14.  Suntikan anestesi sambil menarik jarum pada tepi luka perineum tanpa menarik keluar dari luka.
15.  Lakukan langkah No. 2 – 5 diatas kedua tepi robekan
16.  Tunggu 1 – 2 menit sebelum melakukan penjahitan untuk mendapatkan hasil optimal dari anestesi lokal.
C. Penjahitan robekan perineum
17.  Lakukan inspeksi vagina dan perineum untuk melihat robekan
18.  Jika ada perdarahan yang menutupi luka, pasang tampon / kasa ke dalam vagina.
19.  Pasang jarum jahit pada mata jarum
20.  Tentukan dengan jelas batas luka robekan perineum
21.  Jika ujung otot sfingter ani terpisah karena robekan, jepit /klem dengan menggunakan pean lurus.
22.  Kemudian tautkan ujung otot sfingter ani dengan melakukan 2 – 3 jahitan angka 8 sehingga bertemu kembali.
23.  Selanjutnya lakukan tindakan jahitan lapis demi lapis seperti biasa.
24.  Lakukan pemeriksaan ulang: pastikan perdarahan dari robekan dapat diatasi, kontrol perdarahan di sekitar vulva dan vagina, bersihkan daeraha Perineum dan sekitarnya dengan kapas antiseptik.
25.  Dekontaminasi pasca tindakan yaitu alat dan ruangan
26.  Cuci tangan dengan cara tujuh langkah.
2.2.6        Pelaksanaan :
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti efisien dan menyeluruh.
2.2.7        Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan sesuai dengan masalah dan diagnosa.
- K/U ibu baik , TTV normal, kontraksi uterus baik dan tidak ada tanda-tanda infeksi
- Tidak ada perdarahan
- Bayi lahir spontan dan dalam keadaan baik.














BAB  III

TINJAUAN KASUS


I.           DATA SUBJEKTIF
1.      IDENTITAS/ BIODATA   
Istri                              Suami
Nama Klien        : Ny. L                   Tn. O              
Umur                  : 22 Tahun              25 Tahun
Kebangsaan        : Indonesia               Indonesia
Agama                : Islam                      Islam
Pendidikan          : SMP                      SMP
Pekerjaan            : IRT                         Wiraswata
2.      Anamnese  pada tanggal:  15 Februari 2008. Pukul 17.00 WIB
a.       Alasan masuk  BPS:
Ibu mengatakan keluar lendir bercampur darah (Bloodshow)  dan mules – mules sejak jam 13.00 WIB. Lokasi mules dimulai dari pinggang menjalar ke perut yang lama kelamaan makin sering, pergerakan janin masih dirasakan oleh ibu.
b.      Riwayat Kehamilan  Sekarang
HPHT   : 5 Mei 2007. 3 hari teratur jumlahnya 2-3 kali ganti  softek
ANC    : Teratur, 1 bulan sekali dan 2 minggu sekali pada
                trimester III.
c.       Riwayat Imunisasi : TT1 : Tanggal 16 Agustus 2007
  TT2 ; Tanggal 16 September 2007  


d.      Riwayat persalinan :Tempat persalinan  BPS Baitussalam        
IBU :
Jenis persalinan : Spontan,  belakang kepala
·         Komplikasi/ kelainan dalam persalinan:  tidak ada
·         Plasenta  : Lahir spontan lengkap, ukuran  15x20 cm, tebal 2,5 cm, berat 500 gram, kelainan plasenta dan tali pusat  : tidak ada, sisa plasenta: tidak ada.
·         Perineum: terdapat robekan derajat dua
·         Perdarahan :
Kala I        :     tidak hanya ada bloodshow
Kala II       :     tidak ada
Kala III     :     kurang lebih 150 ml
Kala IV   :       darah  yang keluar berasal dari robekan perineum, bukan dari uterus dibuktikan dari kontraksi uterus baik.
Catatan waktu :
Kala  I       :  5  jam 30 menit
                      Ketuban pecah : 0 jam : 45 menit (pecah spontan) 
Kala II       : 0  jam 45 menit (dipimpin meneran)
Kala III     : 0 jam 5 menit
Bayi        :
·             Lahir  : Spontan pervaginan, menangis kuat.
·             Pukul : 22.00 WIB
·             BB : 3200.  PB : 50 cm, A/S : 8/9
·             Masa gestasi :  39 minggu.
·             Komplikasi   : tidak ada
·             Air ketuban banyaknya : kurang lebih 250 ml, keadaan putih keruh.

     
II.        DATA OBYEKTIF
1.      Keadaan umum         : baik
Kesadaran               : compos mentis
Status emosional     : stabil
2.      Tanda-tanda vital
Tekanan darah         : 120/80 mmHg
Nadi                        : 84 x / menit
Respirasi                  : 20 x / menit
Suhu                        : 36,5 oC
Tinggi badan           : 155 cm
Berat badan             : 55 kg
3.      Pemeriksaan Fisik
a.       Kepala
§ Rambut         : bersih, tidak rontok
§ Ketombe       : tidak ada
b.      Muka
§ Cloasma gravidarum : tidak ada
§ Odema                      : tidak ada
§ Conjungtiva              : merah muda
§ Sklera                        : putih
§ Hidung                      : simetris, tidak ada polip
§ Mulut dan gigi        : stomatisis tidak ada, caries tidak ada, tonsil  tidak bengkak, kelenjar tiroid tidak bengkak, kelenjar getah bening tidak bengkak.






c.       Dada    
§  Jantung                       : reguler, wheezing tidak ada,  ronchi tidak ada
§ Mammae                               : bentuk simetris, tidak ada massa, puting susu menonjol, areloa hyperpigmentasi.
d.      Abdomen
§ Inspeksi                                 :   pembesaran perut sesuai dengan umur kehamilan, tidak ada bekas SC, linea nigra, striae livida.
§ Palpasi                                   :   TFU 32 cm, presentasi kepala, puki, penurunan kepala 2/5
§ Auskultasi                             : DJJ 130 x / menit, punctum maksimum di bawah pusat sebelah kiri
e.       Punggung dan pingang : posisi tulang belakang lordosis, CVAT tidak ada nyeri.
f.       Ekstremitas bawah : 0edema tidak ada, varises tidak ada, refleks patela kanan kiri + / +
g.      Anogenital  :
Inspeksi               :  vulva vagina tidak ada kelainan.
h.      Periksa dalam :
Vulva vagina        : tidak ada kelainan
Porsio                   : tipis
Pembukaan           : 5 cm
Ketuban                : utuh, menonjol
Presentasi             : Kepala
Penurunan kepala : 2/5



4.      Pemeriksaan Laboratorium
HB            : 13 g  %
Protein      : negatif
Glukosa    : negatif

III.     ASSESMENT
G1P0A0 40 minggu kala I fase aktif, janin hidup, tunggal, intrauterin, presentasi kepala, keadaan ibu dan janin baik.
IV.     PLANING
  1. Memberi tahu ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan → Ibu mengerti tentang keadaan kehamilannya.
  2. Menganjurkan ibu untuk jalan-jalan atau tirah baring ke sisi kiri → ibu mau jalan-jalan dan tidur miring ke kiri
  3. Observasi kesejahteraan ibu dan janin, serta kemajuan persalinan mengukur DJJ dan kontraksi setiap 30 menit, pembukaan, penurunan bagian terendah, dan tekanan darah tiap 4 jam serta serta evaluasi kandung kemih tiap 2 jam → keadaan ibu dan janin baik
  4. Memberikan nutrisi yang cukup → ibu mau makan dan minum
  5. Memberikan dukungan pada ibu dan keluarga agar tidak cemas → ibu merasa cukup tenang.
  6. Menyiapkan partus set dan hecting set → partus dan hecting set sudah siap.



Kala II (pukul 21.30 )
I.  DATA SUBYEKTIF :
Ibu mengatakan ingin BAB dan  ada dorongan untuk meneran.
II. DATA OBYEKTIF :
-   Keadaan umum ibu : baik
-   Pemeriksaan fisik : TTV : Nadi 78 x /menit, R 24x/mnt
-   Abdomen : His 5x dalam 10 menit, selama 50 detik,
      DDJ 130x/ menit, penurunan kepala 1/5.
-  Pemeriksaan Dalam : Vulva tak, pembukaan lengkap, Ketuban negatip,     , Penurunan kepala H III-IV, UUK Kidep, tidak ada bagian kecil janin yang menumbung.
III. ASSESSMENT
G1P0A0 parturient atrem kala II.
IV. PLANNING
  1. Memberi tahu hasil pemeriksaan → ibu mengetahui persalinannya.
  2. Memberi dukungan moril dan mendampingi ibu → ibu merasa lebih tenang
  3. Mengajarkan ibu untuk mengedan yang benar dan memberikan pilihan posisi yang nyaman dalam persalinan → ibu mengetahaui cara mengedan yang baik
  4. Memimpin ibu untuk meneran apabila ada his → ibu dipimpin meneran.
  5. Memantau DDJ disaat his mulai menghilang → DJJ 130 x / menit.
  6. Memberi minum disaat ibu istirahat → ibu minum teh manis setengah gelas
  7. Menyiapkan pertolongan persalinan
Yaitu jika kepala tampak di vulva berdiameter 5 – 6 cm, tangan kanan menyokong Perineum dan tangan kiri di atas simpisis sampai kepala lahir. Kemudian usap dan cek apakah ada lilitan tali pusat, tunggu kepala melakukan putaran paksi luar dan letakan tangan secara biparietal untuk melahirkan bahu, kemudian dilakukan sangga susur tubuh bayi → pukul 22.15 WIB,  bayi lahir spontan segera menangis, jenis kelamin perempuan, panjang badan 50 cm, berat badan 3.200 gr, A/S: 8/9.
  1. Melakukan penanganan bayi baru lahir → bayi diletakan di atas perut ibu, dikeringkan, jepit dan klem tali pusat, lalu potong kemudian ganti dengan kain yang bersih dan susukan ke ibunya.
Kala III (Pukul 22.21 menit)
I     DATA SUBJEKTIF   : Ibu mengatakan mules dan keluar darah.
II DATA OBJEKTIF   : Tanda- tanda pelepasan placenta sudah ada yaitu : uterus berkontraksi, ada semburan darah, dan tali pusat memanjang.
III ASSESSMENT
P1A0 Parturient kala III  Keadaan umum ibu baik
IV. PLANNING
Manajemen aktif kala III :
1.        Mengecek fundus uteri untuk memastikan adanya bayi ke dua → tidak ada bayi kedua.
2.        Melakukan manajemen aktif kala III :
a.       Memberi tahu ibu mau di suntik
b.   Memberikan suntikan ositosin 10 unit IM → oksitosin telah diberikan
kurang dari 2 menit.
c. Melakukan penegangan tali pusat yaitu pindahkan klem, posisikan   tangan setelah itu tegangkan sambil evaluasi tanda-tanda peleapsan plasenta → sudah ada tanda-tanda pelepasan plasenta.
              d. Melahirkan plasenta : plasenta lahir spontan, lengkap, pukul 22.20 WIB. Jumlah perdarahan ± 150 ml, dan adanya robekan pada dinding vagina dan perineum.
e.       Masage uterus → melakukan masage uterus sampai keras, bundar, lalu cuci tangan dan mengikat tali pusat, lepaskan klem dan susukan lagi.


Kala IV (Pukul 22.35 menit).
I. DATA SUJEKTIF : ibu merasa bahagia karena proses kelahiran bayinya  berjalan dengan lancar.
f.                                                                                               II. DATA OBJEKTIF :    Keadaan umum ibu baik
                                                          Pukul 22.20 menit WIB plasenta lahir spontan, lengkap, pengeluaran darah ± 150 ml, TFU : sepusat, kontraksi uterus baik
          III. ASSESSMENT  :
Parturient kala IV p1 A0 dengan robekan perineum tingkat II
IV. PLANNING
  1. Cek robekan → robekan tingkat II
  2. Melakukan penjaitan dengan anestesi, pada dinding vagina dan Perineum bagian dalam di jait secara jelujur sedangkan perineum luar di jait secara subcutikuler  → dindind vagina dan perineum telah di jait rapih.
  3. Mengajarkan pada ibu dan keluarga cara masage uterus  → ibu mengerti dan bisa melakukan masage uterus.
  4. Membersihkan ibu dari cairan ketuban dan darah → ibu sudah bersih dan merasa nyaman
  5. Mengajarkan pada ibu cara vulva higiene dan perawatan luka jaitan → ibu mengerti.
  6. Mendekontaminasi alat dan tempat persalinan → alat dan tempat persalinan sudah di bersihkan.
  7. Observasi dan pantau kala IV selama 2 jam yaitu tanda – tanda vital TFU, kontraksi uterus, kanduh kemih dan perdarahan setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan 30 menit pada jam kedua → terlampir dalam partograf
  8. Kesepakatan untuk kunjungan ulang. → ibu bersedia untuk kunjungan ulang yaitu hari ke 2.




BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah penulis melakukan asuhan kebidanan persalinan pada Ny  L dengan robekan perineum tingkat II  maka penulis dapat menyimpulkan bahwa :

1.      Pengkajian
Pada saat pengkajian data obyektif, terdapat beberapa persamaan antara tinajauan teori dengan tinjauan kasus, menurut reori pada kasus robekan perineum sebab- sebabnya antara lain : kepala janin terlalu lahir cepat, anak besar, vagina sempit, perineum kaku. Dan dari salah satu sebab diatas terjadi pada Ny L yaitu kepala janin terlalu cepat lahir dan penekanan pada perineum kurang kuat.

2.      Interpretasi Data
Sebab-sebab terjadinya robekan perineum antara lain : kepala janin terlalu cepat lahir, anak besar, vagina sempit, perineum kaku. Dan dari salah satu sebab di atas terjadi pada ny  L yaitu kepala janin terlalu cepat lahir dan penekanan pada perineum kurang kuat.

3.      Identifikasi Diagnosa dan  Masalah Potensial
Potensial terjadinya perdarahan dan infeksi.

4.      Identifikasi Kebutuhan akan Tindakan Segera/Kolaborasi
Penanganan perdarahan dan melakukan penjahitan robekan jalan lahir.




5.      Rencana Tindakan

38
 
Sesuai dengan standar asuhan kebidanan dalam merencanakan asuhan yang menyeluruh yaitu melakukan penjahitan luka perineum, observasi perdarahan, kontraksi uterus, tanda-tanda vital dan kanduh kemih.

6.      Pelaksanaan Tindakan
Pada Ny L dengan robekan perineum tingkat II dimana kepala janin terlalu cepat lahir, perencanaanya dilakukan sesuai dengan penjahitan robekan perineum tingkat II.

7.      Evaluasi
Dalam tahap ini setelah memberikan asuhan yaitu keadaan ibu baik dan pulang dalam keaadaan sehat.

                                   

                                                             
















BAB V
PENUTUP

            Kesimpulan
Pada kasus Ny  L dengan robekan perineum derajat II sebelum penjaitan luka, dilakukan anestesi terlebih dahulu karena ibu tidak tahan sakit. Setelah memberikan asuhan pada Ny  L tidak terjadi perdarahan dan infeksi karena pasien telah mengerti tentang perawatan luka perineum,  setelah diberikan konseling serta pasien dapat merawat bayinya dengan baik dan dapat memberikan ASI secara ekslusif

            Saran
1.      Untuk Klien
Diharapkan klien dapat memperhatikan luka perineum dengan baik agar tidak terjadi infeksi dan mempercepat kesembuhan, juga diharapkan dapat merawat bayinya dengan baik dan hati-hati agar tidak terjadi infeksi, hipotermi dan aspirasi.

2.      Untuk BPS
Diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan pada pasien dengan kasus robekan tingkat II dan profesionalisme.

3.      Untuk Pendidikan
Untuk menambah perbendaharaan materi tentang kasus robekan perineum tingkat II, sebagai bahan bacaabn bagi mahasiswa.
                                                           
                                                            

No comments:

Post a Comment