Monday, May 28, 2012

ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN PADA NY. R DENGAN HYPEREMESIS GRAVIDARUM TINGKAT I


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Mual (nausea) dan muntah (emesis) adalah gejala yang wajar dan sering terjadi pada kehamilan Trisemester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala ini terjadi ± 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung ± 10 minggu. Kalau ibu mual dan muntah segala apa yang ia makan dan minum hingga berat badannya turun, turgor kulit kurang, timbul acetone disebut dengan hyperemesis gravidarum.
Mual dan muntah terjadi pada 60-80 % primigravida dan 40-60 % multigravida. Satu diantara seribu kehamilan gejala-gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan mual disebabkan karena peningkatan hormon estrogen dan HCG. Pengaruh fisiologik kenaikan hormone ini belum jelas. Mungkin karena system saraf pusat atau pengosongan lambung yang kurang. Hal ini merupakan permasalahan utama yang dialami wanita, sehingga ibu hamil enggan melaksanakan aktifitas sehari-hari, juga enggan lagi kembali menghadapi kehamilan trisemester I.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk mengambil kasus dengan judul " Asuhan kebidanan pada Ny. R dengan Hyperemesis Gravidarum Tingkat I.
1.2  Tujuan
1.2.1        Tujuan umum
 Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan hyperemesis gravidarum dengan pendekatan varney dan mendokumentasikannya dengan SOAP.
1.2.2        Tujuan khusus
1.      Mengumpulkan data dengan hamil hyperemesis gravidarum tingkat I secara menyeluruh pada Ny. R di BPS. Yayan Mulyanah Cilimus Kuningan 2008.
2.      Menginterpretasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa / masalah potensial pada ibu hamil dengan   hyperemesis   gravidarum   tingkat   I   pada      Ny. R di BPS. Yayan Mulyanah Cilimus Kuningan 2008.
3.      Mengidentifikasi diagnosa / masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya pada ibu hamil dengan hyperemesis gravidarum tingkat I  pada    Ny. R.
4.      Mengidentifikasi diagnosa / masalah akan tindakan segera atau kolaborasi pada ibu hamil dengan hyperemesis gravidarum tingkat  I  pada    Ny. R.
5.      Merencanakan tindakan asuhan kebidanan pada NY. R dengan Hyperemesis gravidarum.
6.      Melaksanakan  tindakan asuhan kebidanan pada NY. R dengan Hyperemesis gravidarum.
7.      Mengevaluasi setelah melakukan tindakan asuhan pada NY. R dengan Hyperemesis gravidarum.

1.3  Metode Penulisan
Dalam pembuatan laporan ini penulis menggunakan beberapa jenis pengumpulan data, antara lain :
1.      Wawancara
Dalam pembuatan makalah ini penulis melakukan komunikasi dengan klien sehingga penulis mendapatkan data yang dapat dijadikan bahan dalam pembuatan makalah ini.
2.      Studi Kepustakaan
Dalam penulisan makalah ini penulis mendapatkan data dari berbagai sumber buku mengenai hyperemesis gravidarum.
3.      Observasi
Dalam pembuatan makalah ini penulis melaksanakan secara langsung  keadaa klien.
4.      Pendokumentasian
Untuk mendokumentasikan data yang diperoleh penuli menggunakan metode secara SOAP.
1.4  Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun secara sistematis terdiri dari :
BAB I PENDAHULUAN          :    Terdiri dari: Latar Belakang, Tujuan, Metode penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA    :       Terdiri dari Konsep Medis dan Asuhan kebidanan.
TINJAUAN KASUS                  :    Terdiri dari pendokumentasian dengan menggunakan system SOAP.
BBAB IV PEMBAHASAN       :    Terdiri dari kendala yang dihadapi penulis pada pengkajian Interpretasi Data, Diagnosa Kebidanan, Kebutuhan akan Tindakan segera, Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi.
BAB V PENUUTP                     :    Terdiri dari kesimpuan dan saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Konsep Medis
2.1.1      Pengertian
a.       Kehamilan adalah dimulai dengan konsepsi samapai lahirnya janin lamanya 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari haid pertama haid terkahir..
b.      Kehamilan adalah suatu proses yang terjadi bila ada pertemuan dan persenyawaan antara sel telur (ovum) dan spermatozoa dan berakhir dengan permulaan persalinan.
c.       Hyperemesis   gravidarum    adalah    m ual    dan    muntah    yang
berlebihan  pada wanita hamil  sampai mengganggu pekerjaan
sehari-hari. karena keadaan umumnya menjadi buruk dan terjadi
dehidrasi..
d.      Hyperemesis gravidaaim adalah gejala mual dan muntah yang
berat yang terjadi pada ibu hamil hingga mengganggu pekerjaan
sehari-hari dan keadaan umum menjadi buruk..
e.       Hyperemesis gravidarum adalah suatu keadaan dimana seorang
ibu memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum hingga
berat badannya turun, turgor kulit kurang, diurese kurang dan
timbul aseton dalam air kencing.

2.1.2      Etiologi
Pada tubuh wanita yang hamil terjadi perubahan-perubahan yang cukup besar yang mungkin merusak keseimbangan di dalam badan. Misalnya saja yang dapat menyebabkan mual dan muntah ialah masuknya bagian-bagian villus ke dalam peredaran darah ibu, perubahan endokrin misalnya hypofungsi cortex gl suprarenalis, perubahan metabolik dan kurangnya pergerakan lambung.
Beberapa factor predisposisi yang dikemukakan yaitu :
a.       Pada  primigaravida,   mola  hidratidosa  dan  kehamilan  ganda.
Karena sebagian kecil primigravida dan koreonik gonadotropin,
sedangkan pada mola hidratidosa disebabkan jumlah hormon
yang dikeluarkan terlalu tinggi dan menyebabkan hyperemesis
gravidarum.
b.      Faktor  organik   yaitu   alergi   sebagai   salah   satu   respon   dari
jaringan ibu terhadap anak, karena masuknya vili khorialis dalam
sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta
resistensi yang menurun.
c.       Faktor psikologik memegang peranan penting dalam penyakit
ini,   rumah   tangga   yang   retak,   kehilangan   pekerjaan.   takut
terhadap  kehamilan  dan  persalinan,  takut  terhadap  tanggung
jawab sebagai ibu dapat menyebabkan konflik mental yang dapat
memperberat  mual dan muntah.  Hubungan psikologis dengan
hyperemesis  gravidarum  belum  diketahui  secara  pasti.  Tidak
jarang, dengan memberikan suasana baru sudah dapat membantu
mengurangi frekuensi muntah.
Pada wanita hamil perasaan mual dan muntah saat trimester 1 diakibatkan karena peningkatan estrogen. Pengaruh psikologis kemungkinan berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Selain adaptasi hormonal dan sistem saraf pusat, faktor psikologis merupakan faktor utama. Kebanyakan wanita hamil dapat beradaptasi terhadap mual dan muntahnya hingga berbulan-bulan.
Dengan frekuensi mual dan muntah yang sering dapat menyebabkan dehidrasi serta tidak imbangnya elektrolit, pada kejadian ini cadangan karbohidrat habis dipakai untuk keperluan energi,  sehingga pembakaran beralih pada cadangan lemak dan protein karena kurang sempurnanya pembakaran lemak, maka terjadilah badan keton dalarn darah yang dapat menanibah beratnya gejala klinik.
Dengan muntah yang berlebihan juga dapat menyebabkan cairan tubuh makin kurang serta elektrolit natrium, kalium. kalsium, sehingga darah menjadi kental (hemokonsentrasi) yang dapat melambatkan peredaran darah yang berarti konsumsi Ot dan makanan ke jaringan berkurang. Sehingga dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan menimbun zat toksik. Mual dan muntah yang berlebihan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah kapiler pada esophagus dan lambung.


2.1.3     
Hyperemesis Gravidarum   
 
Tertimbunnya zat toksik  
 
O2 ke jaringan berkurang 
 
Tertimbunnya asam aseton asetik dalam darah 
 
Terjadinya ketosis
 
Menyebabkan hemokonsentrasi
 
Kekurangan cairan dan dehidrasi
 
Karbohidrat dan cadangan protein,lemak habis
 
Dehidrasi dan tidak imbangnnya elektrolit   
 
Mual dan muntah
 
Saraf pusat pengosongan lambung  
 
Hormone HCG meningkat 
 
Peningkatan hormone Estrogen
 
Hamil
 
Patofisiologi

2.1.4      Tanda dan Gejala
Pada  gejala  hyperemesis   gravidarum   secara  klinis  dapat dibagi menjadi tiga tingkat :
1.      Hyperemesis gravidarum tingkat pertama (ringan)
a.       Muntah berlangsung terus
b.      Nafsu makan berkurang
c.       Berat badan menurun
d.      Nyeri epigastrium
e.       Turgor kulit berkurang
f.       Tekanan darah turun dan nadi ± 100 x / menit
g.      Mata tampak cekung
h.      Lidah kering
2.      Hyperemesis gravidarum tingkat dua (sedang)
a.       Penderita  tampak  lebih  lemah  serta  mulai  tampak  gejala
gangguan kesadaran (Apatis)
b.      Gejala dehidrasi, mata tampak cekung, turgor kulit makin
kurang, lidah kering dan kotor.
c.       Berat badan makin menurun
d.      Mata icterik
e.       Timbul hipotensi
f.       Suhu kadang naik
g.      Nadi kecil dan cepat
h.      Hemokonsentrasi dan oliguria
i.        Nafas berbau aseton
3.      Hyperemesis gravidarum tingkat tiga (berat)
a.       Gangguan kesadaran dalam bentuk somnolen sampai koma
b.      Muntah berhenti
c.       Nadi kecil dan cepat
d.      Suhu meningkat dan tekanan darah makin menurun
e.       Gangguan faal hati terjadi dengan manifestasi uterus

2.1.5      Penatalaksanaan
1.   Diagnosa
a.       Diagnosa   hyperemesis   gravidarum   biasanya   tidak   sukar.
harus ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah yang
terus-menerus,   sehingga   mempengaruhi   keadaan   umum.
kemungkinan lain yang menyertai hamil harus dipikirkan dan
konsultasi dengan dokter tentang penyakit hati, ginjal, tukak
lambung,   pemeriksaan   laboratorium   dapat   membedakan
ketiga kemungkinan hamil disertai penyakit.
b.      Muntah terus-menerus tanpa pengobatan dapat menimbulkan
gangguan   tumbuh   kembang  janin   dalam   rahim   dengan
manifestasi    kliniknya.    Oleh    karena    itu.    hyperemesis
gravidarum berkelanjutan harus dicegah dan harus mendapat
pengobatan yang adekuat.
2.   Tindakan
a.       Pencegahan
Prinsip   pencegahan   adalah   tnengobati   emesis   agar  tidak terjadi hyperemesis, yaitu :
-        Memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan merupakan proses fisiologis
-        Memberikan    keyakinan    bahwa    mual    dan    muntah merupakan gejala yang fisiologis pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan.
-        Menganjurkan untuk mengubah pola makan sehari-hari dengan   makan   sedikit-sedikit   tetapi   sering,   berikan makanan selingan seperti biskuit, roti kering dengan teh hangat saat bangun pagi dan sebelum tidur.
-        Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya
-        dihindarkan.
-        Makanan dan minuman yang disajikan sebaiknya dalam keadaan panas atau sangat dingin.

-        Jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi karena akan merasa mual dan muntah.
-        Defekasi   teratur   hendaknya   dijamin   menghindarkan kekurangan karbohidrat merupakan faktor penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.
b.      Pengobatan
-        Penggunaan sedativa ringan
-        Luminal (30 gram)
-        Vitamin : Bl dan B6, B Compleks, Vitamin C.
-        Obat anti mual dan muntah : Mediameter B6. emetrade. stimetil, avopres.
-        Anti alergi : Anti histamine, dramamin, avomin.
Penanganan pada hyperemesis gravidarum lebih berat (tingkat II dan III). Pada kasus ini diperlukan kolaborasi dengan dokter obgyn dan dirawat di Rumah Sakit :
a.       Pada 24 jam pertama tidak diberikan makanan dan minuman peroral.
b.      Diberikan infus berupa glukosa 10% dan larutan garam fisiologis : 2-3 liter dalam 24 jam, terus ditambah sampai urine bereproduksi dalam batas normal.
c.       Ditambah vitamin dan elektrolit dalam cairan.
d.      Pasien ditempatkan tersendiri dalam kamar yang tenang dan bebas dan bau-bauan.
e.       Jika pasien tidak muntah dan keadaan umumnya baik. maka dicoba untuk diberikan makanan kering atau biskuit sedikit demi sedikit tiap 2 hingga 3 jam dan minuman tiap 2 jam tetapi sekali minum tidak boleh >
100 cc.
f.       Bila pemberian makanan dan minuman sudah dapat dilakukan, maka pemberian cairan dihentikan.
g.      Pemberian suntikan obat penenang :
-         Luminal lOO mg lM/IV
-        Valium lOmglM/IV Peroral :
-        Luminal 3x30 mg / hr
-        Valium 3 x 2.5 mg / hr

2.2    Konsep Asuhan Kebidanan
2.2.1      Pengumpulan Data
A.    Identitas
Nama                 : Untuk   membedakan   antara   klien   yang   satu dengan yang lainnya
Umur                 : Untuk    mengetahui    masa    reproduksi    klien beresiko tinggi atau tidak
Suku/bangsa      : Untuk mengetahui apakah ibu WNI atau WNA dan    untuk    mengetahui    adat    istiadat    yang berlaku.
Agama               : Untuk menentukan bagaimana kita memberikan dukungan       pada       ibu       sesuai       dengan kepercayaannya.
Pendidikan      :   Untuk   mengetahui   tingkat   pengetahuan   klien tentang kesehatan
Pekerjaan        :    Untuk    mengetahui    status    sosial    ekonomi. pengaruh    terhadap    hyperemesis    gravidarum dapat dilihat dari pekerjaan ibu, berat atau tidak.
Alamat              : Untuk mengetahui dimana ibu tinggal dan untuk memudahkan menghubungi keluarga ibu.
B.     Anamnesa
Tanggal dan jam                     : Untuk memudahkan pengetahuan waktu    dan    kapan    dilakukan pemeriksaan.
1.    Alasan kunjungan              :    Apakah     klien     datang    untuk kunjungan         pertama        atau
kunjungan ulang
2.    Keluhan yang dirasakan    :    Untuk mengetahui apakah klien mempunyai resiko tinggi yang dapat mempengaruhi kehamilan pada kasus hyperemesis gravidarum keluhan yang dirasakan mual dan muntah sampai tidak ada makanan yang masuk.
3.    Riwayat kehamilan sekarang
-        Riwayat menstruasi   :    Memberikan    penilaian    tentang faal alat kandungan, teratur tidaknya haid serta siklusnya. HPHT digunakan untuk mengetahui usia kehamilan dan perhitungan taksiran tanggal persalinan.
-        Tanda-tanda kehamilan : Pada trmester  satu  bisa  terjadi hiperemesis       gravidarum dan pemeriksaan kehamilan dapat dilakukan pada usia trimester I.
-        Pergerakan janin         :    Pada primigravida gerakan janin dirasakan pertama kali pada usia kehamilan 20 minggu, sedangkan pada multigravida gerakan janin dirasakan pertama kali pada usia kehamilan 16 minggu.
-        Pola nutrisi                  :    Untuk    mengetahui    pemenuhan gizi pada ibu hamil pada kasus hyperemesis gravidarum nafsu makan    menurun    uang    biasa makan 3 kali sehari sekurang-kurangnya 1 kali sehari.
-        Pola eliminasi              :    Untuk mengetahui ada tidaknya gangguan          pada    system pencemaan ibu hamil. Pada awal normal BAB ± 1 x / hari dan BAK ± 5 x / hari.
-        Riwayat imunisasi      :    Untuk mengetahui  apakah klien sudah mendapatkan imunisasi TT atau belum. Imunisasi TT diberikan untuk mencegah tetanus neonatorium dan diberikan 2 kali dan interval antara TT I dan TT II selama -minggu.
-        Riwayat kontrasepsi    :   Untuk        mengetahui      alat kontrasepsi apa yang pernah klien gunakan.
4.    Riwayat penyakit yang pernah diderita
Untuk mengetahui apakah klien pernah menderita penyakit kronis seperti : jantung, hati, ginjal, paru-paru yang dapat menyebabkan timbulnya hyperemesis gravidarum.
5.    Riwayat penyakit keluarga
Untuk mengetahui apakah ada penyakit keturanan seperti : diabetes mellitus, hipertensi, jantung, hepatitis, gemeli.
6.    Riwayat sosial
Kehamilan ini diharapkan atau tidak Perkawinan :
-        Status perkawinan
-        Jumlah perkawinan
-        Lama perkawinan

-        Perkawinan sah atau tidak
Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan untuk mengetahui apakah ada pantangan di keluarga klien, untuk ibu biasanya berhubungan dengan makanan, jamu-jamu, obat-obatan dan kebiasaan ibu hamil di suatu daerah.
C.     Pemeriksaan Fisik
1.  Keadaan umum ibu, dengan hyperemesis gravidarum pucat
dan lemah, composmentis, status emosional ibu cetnas dan
masih belum menerii.ia perubahan yang terjadi pada dirinya.
2.              Tanda-tanda Vital :
Tekanandarah        :    Normalnya   110/70  -   130/80  mmHg pada kasus hyperemesis gravidarum biasanya 90/70 mmHg sampai dengan 100/80 mmHg
Nadi                            :     Normalnya 80-100 x / menit. Pada kasus hyperemesis gravidarum tingkat I dan 111 nadi biasanya naik > 100 x / menit. Pada kasus hyperemesis gravidarum tingkat II nadi biasanya turun < 80 x / menit.
Pernapasan             :    Normalnya 18-24 x/menit
Suhu                       :    Normalnya 36.5-37.2 0C Pada   kasus   hyperemesis   gravidarum biasanya mengalami kenaikan suhu > 37.2°C.
3.        Berat badan           :    Kenaikan berat badan normal pada trimester I ± 1 - 2 kg. Pada kasus hyperemesis gravidarum kemungkinan kenaikan berat badan < 1 kg pada trimester 1 karena ibu memuntahkan semua makanan yang masuk.
Tinggi badan          :    ≥ 145 cm
Lila                        :    Normalnya > 23.5 cm. Pada kasus hyperemesis gravidarum tidak menutupi kemungkinan lila < 23.5 cm.
4.        Muka                     :    - Dilihat ada oedema/tidak
-  Dilihat ada cloasma gravidarum/tidak
5.        Mata                      :    - Dilihat conjungtiva merah/pucat
Pada kasus hyperemesis gravidarum.
konjungtiva tampak pucat.
- Dilihat selera icterik/an icteric.
6.        Mulut                     :    - Dilihat bibir kering/tidak
Pada kasus hyperemesis gravidarum bibir tampak kering dan pecah-pecah.
- Dilihat lidah bersih/tidak
Pada kasus hyperemesis gravidarum. lidah tampak kotor dan kering.
7.        Leher                     :    - Ada        pembengkakan        kelenjar
thyroid/tidak
- Ada  pembengkakan   kelenjar  getah
bening/tidak
8.        Dada                      :   
a.  Paru                   :    -  Dilihat ada Wheezing atau tidak
                                    -  dilihat ada ronchi atau tidak
b. Jantung              :    -  Dilihat bunyi jantugn normal / tidak
                                       (Reguler/irregular)
c.  Payudara           :    -  Dilihat bentuk simetris / tidak
-  Dilihat terjadi hyperemesis / tidak
-  Dilihat ada linea / tidak
-  Dilihat putting susu menonjol /tidak
-  Diraba ada masa/tidak
9.        Abdomen
Inspeksi                  : - Dilihat ada bekas operasi/ tidak
-  Dilihat ada striae / tidak
-  Dilihat ada linea / tidak
Pada ibu hamil trimester I striae dan linea belum terlihat
-  Dilihat pembesaran perut sesuai dengan kehamilan / tidak
10.    Palpasi
1.      Leopold 1       :    Untuk menentukan tinggi fundus uteri dan bagian apa yang teraba fundus.
2.      Leopold 2       :    Untuk menentukan  bagian  punggung dan bagian terkecil janin
3.      Leopold 3       :    Untuk    menentukan    apakah    bagian terendah janin sudah masuk PAP atau belum
4.      Leopold 4       :    Untuk    menentukan    seberapa    jauh bagian   terendah  janin   sudah   masuk PAP.
5.      Auskultasi       :    Untuk    mengetahui    denyut    janin  janin DDJ normal  120-160 x / menit terdengarjelas di puntum maksumum.
11.    Punggung dan pinggang
-        Posisi tulang belakang lordosis/tidak
-        Pinggang ada nyeri ketuk/tidak
12.    Ekstimitas
Atas kanan dan kiri     : ada oedema atau tidak
   Ada varices/tidak
Bawah kanan dan kiri : Ada oedema atau tidak
Ada varices/tidak Refleks patella ada/tidak
13.    Anogenital
Vulva vagina        : - Dilihat ada luka parut7tidak
-    Dilihat ada varices/tidak
-    Dilihat ada condilomata aquminata
atau tidak
-    Dilihat ada pembengkakan kelenjar
atau tidak
-    Pengeluaran    pervaginam    dilihat
warna,    konsistcnsi.   junilah    dan
baunya.
Anus                     :   Ada haemoroid/tidak
14.    Pemeriksaan laboratorium
-    Haemoglobin    :   Normalnya 11 gr%
Pada hyperemesis gravidarum tidak menutup kemungkinan lib ibu hamil kurang dari 11 gr% dikarenakan kurangnya asupan nutrisi yang mengakibatkan terjadinya anemia.
-    Urine                :   Untuk       megetahui       ada/tidaknya protein dan albumin dalam urine. Normalnya protein negatif. albumin urine (reduksi) negatif.
2.2.2.   Interpretasi Data
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang dikumpulkan.
Diagnosa      : G..P..A..gravida….minggu   TFU  keadaan   umum    ibu lemah dengan hyperemesis gravidarum.
Masalah           : Ibu mengeluh mual, muntah, lemas dan pusing
Kebutuhan      : Konseling lebih lanjut

2.2.3.       Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Mengidentifikasikan diagnosa dan masalah potensial sesuai dengan diagnosa dan masalah yang sudah diidentifikasikan.


2.2.4.       Identifikasi Kebutuhan Akan Tindakan Segera Atau Kolaborasi
Menidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain, dengan kondisi klien.
2.2.5.       Perencanaan Tindakan
Pada langkah ini dilakukan asuhan yang menyeluruh sesuai rencana asuhan. Merencanakan asuhan sesuai dengan penatalaksanaan kasus hyperemesis gravidarum tingkat I.
2.2.6.       Pelaksanaan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah 5 dilaksanakan secara efisien dan aman yaitu melaksanakan asuhan pada kasus hyperemesis gravidarum tingkat I yang telah direncanakan sebelumnya.
2.2.7.   Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang telah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan klien yang telah diidentifikasikan di dalam perencanaan dan pelaksanaan.

BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1  Data Subyektif
A.    Identitas
Nama              : Ny. R                                    Nama               : Tn. E
Umur              : 22 tahun                    Umur               : 25 tahun
Kebangsaan    : Indonesia                  Kebangsaan     : Indonesia       
Agama            : Islam                                     Agama             : Islam
Pendidikan     : SMP                          Pendidikan      : SMP
Pekerjaan        : IRT                            Pekerjaan         : Wiraswasta

B.     Anamnesa
Pada tanggal 22 Januari 2008 Pukul 16.00
1.   Alasan Kunjungan
Klien datang ke BPS. memeriksakan kehamilannya yang pertama kali dan klien merasa hamil 3 bulan.
2.   Keluhan yang dirasakan
Klien merasa mual dan muntah terus menerus sebanyak ± 12 x/ hari sampai tidak ada makanan yang masuk, selain itu klien menyatakan pusing, dan lemas.
3.   Riwayat menstruasi
Menarche     : Umur 11 tahun
Siklus            : 28 hari
Lama             : ± 4-5 hari
Banyaknya   : ± 2-3 kali ganti  pembalut
Sifat darah    : Merah encer, ada gumpalan kecil sedikit pada hari
pertama
Dismenore   : Ya, pada hari pertama
4.   Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Tidak ada

5.   Riwayat kehamilan sekarang
HPHT     : 16-12-2005
HTP        : 23-09-2006
a.    Tanda-tanda kehamilan
Hasil test kehamilan (+), dilakukan oleh klien sendiri , pada saat klien merasa kehamilannya 1 bulan.
b.   Pergerakan janin
Klien belum merasakan pergerakan janin
c.    Pola nutrisi
Klien makan ± 1 x sehari dalam porsi kecil dan minum sedikit, karena nafsu makan berkurang akibat mual dan juga muntah.
d.   Pola eliminasi
BAB ± 1 x / hari dan BAK ± 5 x / hari. lancar dan tidak ada keluhan.
e.    Pola aktifitas sehari-hari
-  Pola istirahat dan tidur
Tidursiang      : Jarang sekali dilakukan Tidur malam   : ± 6-7 jam/hari
-    Seksualitas      : Jarang dilakukan
-    Pekerjaan        : Ibu   hanya  beraktivitas   sebagai   ibu   rumah
tangga, pekerjaan di  rumah banyak dibantu oleh adiknya.
f.    Riwayat Imunisasi
Klien telah mendapat imunisasi TT dan imunisasi TT2 belum.
g.   Riwayat Kontrasepsi
Klien mengatakan pernah mengikuti alat kontrasepsi suntik.
6.   Riwayat Penyakit Sistemik yang pernah diderita dan kesehatan
Klien  tidak  pernah menderita penyakit sistemik  seperti jantung,
asma, diabetes mellitus, ginjal, TBC, hipertensi, penyakit menular
seksual    dan    ibu   tidak   punya    kebiasaan    merokok    maupun
mengkonsumsi jamu-jamuan serta minum obat-obatan sembarangan.

7.   Riwayat penyakit yang pernah diderita keluarga
Dari keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit seperti jantung, hipertensi, hepatitis, diabetes mellitus dan penyakit kronis lainnya dan klien tidak memiliki keturunan kembar.
8.   Riwayat sosial
Kehamilan  ini  sangat diharapkan  baik oleh  klien  dan  suami maupun keluarganya.
Perkawinan ini merupakan perkawinan klien yang pertama. Lama perkawinan ± 8 tahun
Di keluarga klien tidak ada pantangan makanan apapun.

3.2  Data Objektif
1.      Keadaan umum : lemah
Kesadaran           : composmentis
Emosional           : baik
2.      Tanda-tanda vital
Tekanan darah   : 100/70 mniHg
Nadi                    : 96 x / menit
Pernafasan          : 22 x / menit
Suhu                   :37.2°C
3.      Tinggibadan                             :    154 cm
Berat badan sebelum hamil    :     51 kg
Berat badan sekarang              :     52 kg
Lila                                          :     24 cm
4.      Muka
Tidak ada edema
Tidak ada cloasma gravidarum
5.   Mata
Conjungtiva mata tidak pucat, merah muda. Sclera mata putih, tidak icterik


6.   Mulut
-        Bibir terlihat sedikit kering dan pecah-pecah
-        Lidah kotor
7.     Leher :  tidak ada pembengkakan kelenjar thyroid  maupun  kelenjar lymfe.
8.     Dada
a.    Jantung
Bunyi jantung normal (regular)
b.    Paru-paru
Normal tidak ditemukan adanya sesak, ronchy maupun wheezing.
c.    Payudara
-        Normal tidak ada benjolan yang  patologi
-        Bentuk simetris
-        Putting susu menonjol
-        Hyperpigmentasi pada aerola mamae
9.     Abdomen
Inspeksi        : - Tidak ada luka bekas operasi
                                        - Tidak ada striae dan linea
                                        - Pembesaran ppn.it sesuai dengan masa kehamilan

                 Palpasi
Leopold 1     : TFU jari di atas symphisis, ballotment (+)
10.   Punggung     : CVAT tidak ada nyeri ketuk
11.   Anagonital
Vulva Vagina  : Normal   tidak   ada  kelainan,   tidak   ditemukan   adanya condilomata aquminata, dan tidak ada pembengkakan kelenjar.
Anus               : Normal tidak ada haemoroid





12.   Ekstrimitas
Atas            : Tidak ada oedema
Tidak ada varices
Bawah                    : Tidak ada oedema
Tidak ada varices
Refleks patella Ka/Ki (+)/(+) 13. Pemeriksaan laboratorium
-   Haemoglobin   : 10 gram%
-   Protein urine    : (-)

3.3.   Assesment
G2 P1A0   umur kehamilan 7 minggu 4 hari   Ballotment   (+).   Keadaan   umum   lemah dengan hyperemesis gravidarum tingkat 1.
-        Dengan keluhan mual, muntah, pusing dan lemas.
-        Penanganan yang dapat dilakukan
1.      Nasihat diet, dianjurkan makan dengan porsi sedikit tapi lebih sering, makanan yang merangsang timbulnya mual, muntah dihindari
2.      Obat-obatan, pengobatan ringan tanpa masuk rumah sakit pada hiperemesis gravidarum tingkat I :
a.       Vitamin yang diperlukan : vitamin B kompleks, mediamer, B6 sebagai vitamin dan anti muntah
b.      Pengobatan : sedative ringan : luminal 3x 30 mg (barbiturat), valium. Anti mual muntah : stimetil, primperan, emetrol, dan lainnya

3.4.   Planning
a.   Memberikan penjelasan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan à   ibu
mengerti dan mengetahui keadaannya.
b.   Memberikan   penjelasan  tentang  fisiologis  kehamilan   pada  trimester
pertama. bahwa mual muntah yang dirasakan oleh ibu wajar dan biasa
terjadi pada ibu hamil di awal kehamilannya
à Ibu mengerti apa yang
dijelaskan.
c.   Menganjurkan ibu untuk istirahat teratur dan mengubah pola makannya.
dengan membiasakan makan dalam porsi sedikit tetapi sering. dan jauhi
makanan yang berbau tajam
àIbu mengerti dan bersedia melaksanakan
anjuran yang diberikan.
d.   Memberitahukan  ibu  tentang tanda-tanda  bahaya  kehamilan   à   Ibu
mengetahui tanda bahaya kehamilan.
e.   Memberikan ibu obat anti mual dan muntahà Ibu menerima obat yang
diberikan
f.    Membuat    kesepakatan    untuk    kunjungan    ulang    berikutnya    dan
menganjurkan  ibu untuk segera kembali  bila dirasakan keadaannya
semakin   buruk  
à  Ibu   bersedia   kembali   untuk   kunjungan   ulang

BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah penulis melakukan pengkajian dan memberikan asuhan kebidanan pada Ny. R dengan hyperemesis gravidarum tingkat I di BPS Yayan Mulyanah  periulis menemukan kesenjangan dan kesamaan antara kasus di lapangan dan teori diantaranya :
1.   Pengkajian
Dalam tahap pengumpulan data penulis menemukan kesenjangan antara teori dan praktek. Menurut teori nadi pada kasus hyperemesis gravidarum > 100 x / menit sedangkan pada kasus yang ditemukan di lapangan nadi pada kasus hyperemesis gravidarum yaitu 96 x / menit.
2.   Interprestasi Data
Dalam interprestasi data penulis tidak menemukan kesenjangan antara kasus di lapangan dengan teori, penulis menegaskan diagnosa sesuai dengan data yang ada.
3.   Identifikasi Masalah dan Diagnosa Potensial
Dalam mengidentifikasi masalah dan diagnosa potensial. penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dan kasus di lapangan.
4.   Identifikasi kebutuhan akan tindakan segera atau kolaborasi
Hyperemesis yang terus menerus dapat menimbulkan kekurangan gi/.i dan cairan ibu hamil, oleh karena itu perlu segera diberikan pengobatan oleh dokter atau bidan. Pada langkah ini penulis juga tidak menemukan kesenjangan antara teori dan praktek di lapangan.
5.   Perencanaan
Untuk memberikan asuhan kepada klien penulis sudah merencanakan tindakan sesuai teori, jadi dalam tahap ini penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dan praktek di lapangan.

6.   Pelaksanaan
Dalam tahap pelaksanaan penulis memberikan penjelasan mengenai cara mengurangi keluhan. Jadi dalam tahap ini, penulis tidak menemukan kesenjangan teori dan praktek di lapangan.
7.   Setelan penulis memberi penjelasan, klien mengerti dan bersedia melaksanakan semua anjuran yang diberikan, namun karena keterbatasan waktu, penulis tidak dapat mengevaluasi sampai selesai.

BAB V
PENUTUP

5.1.   Kesimpulan
Setelah melakukan asuhan kebidanan pada Ny. R dengan hyperemesis gravidarum tingkat I, penulis mengambil tes urine  bahwa mual dan  muntah yang berlebihan yang terjadi pada kehamilan muda dapat berakibat buruk pada ibu dan janin. Oleh karena hal tersebut harus segera ditangani dengan baik dan tepat serta dianjurkan juga pada R untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi, tidak beraroma mencolok. tidak mengandung lemak, dan disajikan dalam keadaan hangat. Sehingga diharapkan Ny. R yang mengalami hyperemesis gravidarum tingkat I tidak mengalami kekurangan nutrisi.
5.2.   Saran
5.2.1.   Untuk lahan praktek
Agar lebih meningkatkan pelayanan kesehatan secara tepat dan tepat agar melengkapi sarana dan prasarana yang menunjang dalam melaksanakan asuhan khususnya asuhan kebidanan.
5.2.2.   Mahasiswa
Agar dapat menerapkan asuhan kebidanan menurut teori yang didapat dalam praktek lapangan semaksimal mungkin walaupun dengan sarana, waktu dan tempat yang terbatas.
5.2.3.   Ibu hamil
Agar tetap memeriksakan kehamilannya secara rutin pada petugas kesehatan.
 

1 comment:

  1. sangat bermanfaat, ini jadi bahan referensi tugass perkuliahan saya.
    terus,,, bagaimana bentuk percakapan dalam konseling antara seorang bidan dengan pasien ( bumil) yang mengalami mual muntah di awal kehamilannya? bisa tolong di posting gag ? saya lagi butuh itu sebagai bahan referensi saya selanjutnya.

    terima kasih

    ReplyDelete