Monday, May 28, 2012

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. E PERSALINAN NORMAL DENGAN ROBEKAN PERINEUM DERAJAT II


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Kehamilan dan persalinan adalah menunjukkan saat-saat yang menyenangkan dan sekaligus yang dirasakan oleh ibu dan keluarga, semua ibu menginginkan kehamilan maupun persalinannya berjalan lancar, aman dan normal.
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan disusul dengan pengeluaran dan selaput janin dari tubuh ibu.
Robekan perineum adalah robekan yang terjadi pada perineum sewaktu pesalinan.
Persalinan seringkali mengakibatkan perlukaan jalan lahir, luka-luka biasanya ringan, tetapi kadang-kadang terjadi juga luka yang luas dan bebrahaya. Setelah persalinan harus selalu dilakukan pemeriksaan vulva dan perineum, robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan ini dapat dihindarkan atau dikurangi dengan menjaga jangan sampai dasar panggul dilalui oleh tenaga kesehatan, yang kompeten seperti halnya bidan ataupun spesialis kandungan yaitu dengan cara penjahitan, maka perineum tersebut akan kembali normal.
Angka kematian maternal di Indonesia sampai saat ini cukup tinggi menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002 / 2003 angka kematian ibu di Indonesia 30/100.000 kelahiran hidup dan pemerintah menargetkan pada tahun 2010 kematian dapat menurun menjadi 125/100.000 kelahiran hidup.




1.2    Tujuan Penulisan
1.2.1        Tujuan Umum
Agar mahasiswi mampu menerapkan asuhan kebidanan pada ibu bersalin pada Ny. N dengan robekan perineum derajat II. Melalui pendekatan manajemen kebidanan dengan 7 langkah Varney dan pendokumentasian SOAP.


1.2.2        Tujuan Khusus
1.2.2.1  Mahasiswi mampu melakukan pengkajian pada Ny. N Ibu bersalin dengan robekan perineum derajat II
1.2.2.2  Mahasiswi mampu menentukan interprestasi data pada Ny. N Ibu bersalin dengan robekan perineum derajat II
1.2.2.3  Mahasiswi mampu menegakkan mengidentifikasi dan masalah potensial pada Ny.N Ibu bersalin  dengan robekan perineum derajat II
1.2.2.4  Mahasiswi mampu mengambil tindakan segera/kolaborasi pada Ny. N Ibu bersalin dengan robekan perineum derajat II
1.2.2.5  Mahasiswi mampu melaksanakan rencana asuhan secara menyeluruh pada Ny. N Ibu bersalin dengan robekan perineum derajat II
1.2.2.6  Mahasiswi mampu melaksanakan tindakan perawatan pada Ny. N Ibu bersalin dengan robekan perineum derajat II
1.2.2.7  Mahasiswi mampu mengevaluasi setelah dilakukan tindakan pada Ny. N Ibu bersalin dengan robekan perineum derajat II

1.3    Metode Penulisan
1.3.1        Wawancara
Yaitu melakukan anamnesa secara langsung dengan klien dan       keluarga klien.
1.3.2        Observasi Partisipasi
Yaitu dengan observasi dan pemeriksaan fisik secara langsung pada klien.
1.3.3        Studi Pustaka
Yaitu dengan mempelajari buku-buku yang berkaitan dengan topik kasus dengan ibu bersalin Kala IV dengan robekan perineum

1.4    Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun secara sistimatis, terdiri dari :
BAB I PENDAHULUAN
Terdiri dari latar belakang, tujuan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Terdiri dari konsep medis dan konsep asuhan kebidanan mengunakan sistem varney
BAB III TINJAUAN KASUS
Terdiri dari pendokumentasian dengan menggunakan sistem SOAP
BAB IV PEMBAHASAN
Terdiri dari pengkajian, interprestasi data, masalah pontesial, tindakan segera, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
BAB V PENUTUP
Terdiri dari Kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Konsep Medis
2.1.1        Pengertian
2.1.1.1  Pengertian Persalinan
a.       Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37 - 42 Minggu), lahir spontan dengan presentase belakang kepala yang berlangsung 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada bayi.
b.      Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar.
c.       Persalinan adalah pengeluaran hasil konsepsi (janin-uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan ibu sendiri).
d.      Robekan Perineum adalah robekan yang terjadi pada perineum sewaktu persalinan.
e.       Robekan perineum derajat II adalah robekan meliputi mukosa vagina, fourchette posterior, kulit perineum dan otot perineum.

2.1.2        Fisiologi persalinan
Partus/persalinan terbagi 4 kala. Kala I servik membuka sampai terjadi pemuukaan 10 cm (kala pembukaan). Kala lI disebut kala pengeluaran oleh karena adanya, kekuatan his dan kekuatan mengedan janin di dorong keluar sampai dengan lahir Dalam kala III atau kala uri-plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan, kala IV dimulai setelah plasenta lahir hingga 2 jam post partum.
2.1.2.1  Kala I
Partus dimulai bila timbul his dan wanita tersebut mengeluarkan lende yang bersemu darah (blood-show) lendir yang bersemu darah ini berasa kanalis servikalis mulai membuka dan mendatar dan darah ber wsal dar pembuluh - pembuluh kapiler yang berada di kanalis servikalis karen. servik mulai membuka atau mendata, dan darah berasal dari prose membuanya servik dibagi menjadi 2 fase :
a.       Fase laten
Berlangsung selama 8 jam. Pembukaan ini sangat lambe sampa mencapai ukuran diameter 3 cm
b.      Fase aktif
1.      Fase Akselerasi
Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm tadi menjadi 4 cm
2.      Fase Dilatasi Maksimal
Dalam waktu 2 jam pembukaan berlagsung dari 4 cm menjadi cm
3.      Fase Deselerasi
Dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi pembukaan lengkap. Pada fase ini pembukaan menjadi lambat kembali
Mekanisme pembukaan serviks berbeda antara primigravida dan multigravida. Pada primigravida ostium uteri internum akan membuka lebih dahulu sehingga serviks akan mendatar dan menipis, baru kemudian ostium uteri ekternum membuka. Pada multigravida ostium internum sudah sedikit membuka dan ostium internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran serviks terjadi dalam saat yang sama kala I selesai apabila pembukaan serviks uteri telah lengkap. Pada primigravida kala I berlangsung ± l3 jam sedangkan multipara ~ 7 jam

2.1.2.2  Kala 11
Pada kala II ini His menjadi lebih kuat dan lebih cepat kira-kira 2 sampai 3 menit, karena kepala sudah masuk di ruang panggul, maka perlu His dirasakan tekanan pada otot-otot dasar panggul, yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Kemudian perineum mulai menonjol dan lebih besar dan anus membuka. Labia mulai membuka dan tidak lama kemudian kepala janin tampak dalam vulva pada waktu His. Bila dasar panggung sudah lebih berelaksasi, kepala janin tidak masuk lagi diluar His dan dengan His serta kekuatan mengedan maksimal, kepala janin dilahirkan dengan suboksiput dibawah simpisis dan dahi, muka dan dagu melewati perineum. Setelah istirahat sebentar His mulai lagi mengeluarkan badan dan anggota bayi. Pada primi kala II berlangsung rata-rata 1,5 jam dan pada multi 30 menit.
2.1.2.3  Kala III
Setelah bayi lahir uterus teraba keras dengan fundus uteri agak diatas pusat. Beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dan dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6 sampai 15 menit setelah bayi baru lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah.
2.1.2.4  Kala IV
Setelah plasenta lahir sampai 2 jam postpartum.

2.1.3        Etiologi
Apa yang menyebabkan terjadinya persalinan belum diketahui benar yang ada hanyalah merupan teori-teori yang kompleks antara lain dikemukakan faktor hormonial, struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan pada syaraf dan nutrisi.
1.      Teori penurunan hormon, 1-2 minggu sebelum patus mulai terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron.
2.      Teori plasenta menjadi tua, akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron yang akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah hal ini menimbulkan kontraksi rahim.
3.      Teori distensi rahim : rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot rahim, sehingga mengganggu sirkulasi, utero –plasenter.
4.      Teori iritasi mekanik : di belakang servik terletak gangguan servikale (fleksus fronken houser) bila ganlion ii digeser dsan ditekan, misalnya oleh kepala janin akan timbul kontraksi uterus.
5.      Induksi persalinan (induction of labour) persalinan dapat pula ditimbulkan dengan jalan :
-          Ganggang laminaria : beberapa laminaria dimasukkan dalam kanalis servikalis dengan tujuan merangsang fleksus trankenhouser.
-          Amniotomi : pemecahan ketuban
-          Oksitosin drip : pemberian oskitosin menurut tetesan per infus.

      2.1.4  Patofisiologi
Keterangan :
Untuk memulai persalinan seorang bumil dengan usia kehamilan yang aterm yaitu pengeluaran buah kehamilan antara 37 – 42 minggu atau BB janin 2100 gram atau lebih. Sehingga sebab – sebab persalinan itu ada beberapa teori yaitu sbb :
1. Teori penurunan hormon
     - Progesteron menyebabkan peningkatan kontraksi uterus.
     - Estrogen menyebabkan konsentrasi iritability myometrium.
2. Teori placenta menjadi tua
Akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah.
3. Teori distensi rahim
Rahim membesar dan merenggang menyebabkan iskemia otot – otot rahim.
                    4. Teori rangsangan oksitoksin
Di dalam kala II terjadi renggangan serviks dan menyebabkan oksitoksin meningkat sehingga terjadi HIS.
5. Teori iribitasi mekanik
Di belakang serviks terletak ganglion servikale (fleksus franskenhauser), bila ganglion ini tertekan oleh kepala janin akan timbul HIS.
Setelah proses persalinan berlangsung, disebabkan karena persalinan terlalu cepat, anak besar, persalinan buatan, arcus pubis sempit, perineum kaku, posisi accipito posterior maka akan terjadi robekan perineum.


2.1.4        Klasifikasi Robekan Perineum
2.1.4.2   Derajat I        :    mukosa vagina, kulit perneum, fourchette, posterior
2.1.4.3  Derajat II        :    Mukosa vagina, kulit perineum, otot perineum dan fourchette posterior.
2.1.4.4  Derajat III      :    Mukosa vagina, kulit perineum, otot perineum, otot speingterani, dan fourchette posterior.
2.1.4.5  Derajat IV      :    Mukosa vagina, fourchette posterior, kulit perineum, otot perineum, otot spingterani meluas hingga mukosa rektum
          
2.1.5        Penatalaksanaan
                        Penatalaksanaan di Bidan Praktek Swasta
a.       Melakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi lokasi laserasi dan sumber perdarahan
b.      Melakukan irigasi pada tempat luka dan bubuhi larutan antiseptic
c.       Menjepit sumber perdarahan dengan ujung klem, kemudian ikat benang yang dapat diserap.
d.      Melakukan penjahitan luka mulai dari bagian yang paling distal.

2.2            Konsep Asuhan Kebidanan
2.2.1        Pengumpulan Data
2.2.1.1  Data Subjektif
Identitas Nama                  :          Harus jelas dan lengkap untuk membedakan dengan pasien atau dengan klien
Usia                               :      Umur (dalam tahun) atau lebih jelas tanggal lahir ® Untuk mengantisipasi diagnosa masalah kesehatan dan tindakkan yang dilakukan
Suku/bangsa                  :      Untuk mengetahui adat istiadat, budaya, suku, ras
Agama                          : Sangat berpengaruh dalam kehidupan termasuk kesehatan dan dengan mengetahui agama klien akan lebih mudah mengatasi masalahnya
Pendidikan                    :      Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang kesehatan dari hasil penelitian : kesehatan ibu dan anak akan lebih terjamin daripada yang tidak berpendidikan tinggi
Pekerjaan                      :      Untuk mengetahui status sosial, ekonominya dan mengetahui beban kerjanya
Alamat                          :      Untuk mempermudah hubungan bila mendesak dan memberi petunjuk lingkungan tempat tinggal

a.    Anamnesa
Dilakukan pada tanggal........... oleh........... pukul......... WIB.
1.      Alasan masuk kamar bersalin
Ibu mengatakan hamil ... bulan dengan keluhan mules-mules semakin lama semakin sering dan teratur atau keluarnya lender bercampur darah.
2.      Riwayat Obstetri
Untuk mengetahui keadaan kehamilan saat ini
o   Riwayat Menstruasi
-       HPHT           :      Haid pertama haid terakhi;­diperlukan untuk umur kehamilan dan mengetahui taksiran persalinan
-       Menarche      :      Untuk mengetahui masa pubertas atau masa kematangan reproduksi. Menarche adalah perdarahan pertama dart uterus yang terjadi pada seseorang wanita dan biasanya terjadi antara umur 10 - 16 tahun, tetapi rata 12,5 tahun. Statistic menunjukkan bahwa usia menarche dipengaruhi oleh factor keturunan, keadaan gizi dan kesehatan umum
-       Lamanya       :      Lama haid normalnya ± 2 - 6 hari, haid pertama yang keluar sedikit, hari kedua biasanya paling banyak lalu berangsur - angsur berhenti.
-       Banyaknya   :      Normalnya ± 50cc pada tiap haid
-       Siklus            :      Panjang siklus haid normal adalah 29 hari
-       Konsistensi   :      Pada haid pertama warnanya coklat kemerahan, hari kedua samapi ke empat merah hari kelima coklat kemerahan


-       Taksiran Menurut :  Haid Terakhir dengan siklus 28 hari
                             (+7) (-3) (-1)
                            Haid Terakhir dengan siklus 35
                            hari (+14) (-3) (+1)
o   Riwayat Kehamilan Sekarang
-          ANC untuk mendeteksi secara dini kemungkinan adanya komplikasi pada kehamilan. Pada ibu hamil sebaiknya dilakukan ANC minimal 4 kali, yaitu satu kali pada trimester I, satu kali pada trimester II, dan dua kali pada trimester III.
-          Pergerakan janin ® Gerakan janin terasa pertama kali mulai usia kehamilan pada 16-18 minggu pada multigravida. 18-20 minggu pada primigravida.
-          Imunisasi TT ® untuk mengetahui apakah ibu sudah pernah diimunisasi TT atau belum dan untuk mencegahterjadinya tetanus neonatorum maka sebaiknya ibu mendapatkan imunisasi TT 2x dengan interval 4 minggu,

o   Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas, BBL yang lalu
-           Untuk mengetahui apakah kehamilan, persalinan dan nifas atau paraji. Keadaan bayi saat lahir apakah normal atau tidak.

o   Riwayat Kesehatan Ibu dan Keluarga
-          Apakah klien pernah menderita penyakit kroms dan menular seperti DM, Asma, Jantung, TBC, Hipertensi dll.

3.      Pola Kebutuhan Sehari – Hari
o   Pola nutrisi untuk mengetahui asupan gizi pada ibu.
o   Pola eleminasi untuk mengetahui apakah ada gangguan eleminasi pada saat hamil.
o   Pola aktivitas lbu yang mempunyaoi aktivitas yang berat dapat memungkinkan terjadinya persalinan dengan

2.2.1.2  Data Objektif
a.  1) Keadaan umum : untuk mengetahui keadaan klien secara umum
2)      Keadaan emosional, untuk mengetahui keadaan emosional apakah stabil atau tidak
3)      Kesadaran, untuk mengetahui sejauh mana kesadaran klien pada saat pemeriksaan apaakah keadaan klien apatis, composmetis atau delirium
b.      Tanda - Tanda Vital
Untuk mengetahui tekanan darah, pernafasan, nadi, suhu klien apakah normal atau tidak
1)      Tensi normal pada orang hamil tidak boleh mencapai 140 systolis atau 90 diastolik. juga perubahan 30 systolis dan 15 diastolis dl atas tensi sebelum hamil menandakan toxemia gravidarum
2)      Suhu tubuh, suhu normal untuk lbu hamil 36.4 °C - 37.4°C
3)      Nadi normal yaitu 80 - 100 X/menit
4)      Pernafasan normalnya yaitu 18 - 20 X/menit
c.       Tinggi Badan Normal lbu Hamil Lebih Dari 155 cm
                               d.      Kenaikan berat badan lbu hamil selama keharnilan ± 10-12 kg
1)      Lila ® lila lbu hamil lebih dari 23.5 cm untuk menentukan status gizi

d.      Pemeriksaan Fisik Secara Sistematik
1)      Kepala
Rambut untuk melihat status giai klien (apakah kekurangan protein atau tidak) dan kebersihan rambut normal adalah bersih dan tidak rontok
2)      Muka
Untuk melihat apakah ada bengkak yang merupakan perubahan fisiologi atau tanda - tanda pre-eklamsi
3)      Mata
Konjungtiva : untuk melihat warnanya apakah merah muda bila berwarna keputihan beratrti ada anemia.
Sclera : normal berwarna putih
4)      Mulut dan Gigi
Lidah dan graham: untuk melihat warna lidah (dalam keadaan normal, lidahnya berwarna kemerahan) dan apakah graham ada perdarahan
Gigi : untuk melihat kebersihan gigi untuk melihat apakah pasien tersebut kekurangan kalsium atau tidak
5)      Leher
Kelenjar tyroid ® Untuk melihat apakah ada pembesaran pada kelenjar tyroid atau tidak
Kelenjar lymfe ® Untuk melihat apakah ada pembesaran pada kelenjar lymfe atau tidak.
Dalam kehamilan kelenjar tyroid dapat membesar sedikit
6)      Dada
Jantung
o   Untuk mengetahui keadaan irama jantung normal atau tidak, apakah irama jantung tidak normal kemungkinan ada kelainan pada jantung
o   Pompa jantung mulai naik ± 30% pada kehamilan 3 bulan dan menurun pada minggu - minggu terakhir kehamilan
Paru – Paru
o   Untuk mengetahui terdapat suara wheezing atau tidak
o   Wanita hamil kadang - kadang mengeluh sesak nafas, hal ini disebabkan usus ditekan ke atas kearah diagfragma oleh pembesaran rahim
o   Kapasitas vital para meningkat sedikit selama kehamilan
Payudara
o   Pada kehamilan payudara biasanya sedikit membesar dan menegang
o   Dalam kehamilan normal biasanya putting susu lebih menonjol dan terjadi hyperpigmentasi pada putting susu dan aerola mamae
o   Benjolan dalam keadaan normal biasanya tidak ada, bila terdapat benjolan biasanya merupakan salah satu tanda kanker payudara
o   Pengeluaran cairan dari payudara sudah ada sejak dimulai kehamilan. Sedangkan colostrums sudah mulai mekar sejak 32 minggu kehamilan sampai dengan anak lahir
o   Colostrums hendaknya langsung diberikan kepada bayi yang baru lahir, karena mengandung anti body yang sangat berguna bagi bayi
o   Rasa nyeri di payudara merupakan keadaan fisiologis bila menjelang haid, namun di luar itu bisa merupakan gejala awal kanker payudara
o   Kebersihan payudara mutlak diperlukan bagi seorang ibu hamil, terutama kebersihan putting susu dimana hal ini dipelukan untuk memperlancar ASI
7)      Punggung dan Pinggang
CVAT : Dalam keadaan normal bila diketuk CVAT tidak nyeri, bila nyeri ada salah satu tanda penyakit ginjal
8)      Estrimitas atas – bawah
o   Dalam kehamilan oedema bisa terjadi dikarenakan tekanar akibat pembesaran uterus pada vena pelvic atau macetnya sirkulasi pada tungkai bawah dan bisa terjadi pada trimester ke 2 dan 3, namun bila tetap muncul bahkan setelah semalaman berbaring pada posisi miring ke kiri dapat merupakan salah satu tanda pre-eklamsi
o   Varises dalam kehamilan kanan - kiri positive. Jika sala}­satu negative menandakan kekurang vitamin B1

9)      Abdomen
Bila terdapat bekas luka operasi usahakan tidak dilakukar persalinan pervagina
Leopold I        Menentukan TFU : bagian apa yang terletak difundus ® TFU pertengahan px - pusat atau  33 cm
Leopold II       Batas samping kiri - kanan uterus ® punggung kiri – kanan
Leopold III     Menentukan bagian apa yang terletak di sebelah bawah dari uterus dan apakah bagiar tersebut sudah masuk PAP / belum
Leopold IV     Menentukan sejauh mana bagian janin masuk PAP
10)  Auskultasi
Untuk mendengarkan DJJ bayi apakah normal atau tidak. Dapat didengar pada bulan ke 5
Terdengar jelas dipunggung
N : 120 - 160 X / Menit (teratur)
Letak kepala (kiri- kanan bawah pusat)
11)  Anogenetalia
o   Perineum: ada tidaknya luka perut, pada kasus dengan robekan perineum boiasanya perineum kaku Dada primigravida dan ada bekas luka perut pada multigravida.
o   Varices: ada atau tidak.
o   Fisula: ada atau tidak.
o   Pengeluaran pervaginam: lender darah ada atau tidak.
o   Kelenjar bartolini: ada tidak pembengkakan.
o   Anus: ada hemoroid atau tidak.

e.       Pemeriksaan Laboratorium
1)      Darah
Untuk mengetahui apakah ibu terjadi anemia atau tidak. Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu yang kadar hemoglobin dibawah 1I gram% pada trimester I dan 3 atau kadar haemoglobin < 10.5 gram% pada trimester 2. Nilai batas tersebut dan perbedaaannya dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemoroid pada trimester 2.
2)      Urine
Untuk mengetahui ada tidaknya protein dalam urine untuk mendeteksi adanya tanda - tanda pre - eklamsi, untuk reduksi untuk menetahui kadar gula dalam urine untuk mendeteksi adanya tanda - tanda diabetes militus.

                   Kala I ( Fase Pembukaan )
2.2.2        Interprestasi Data
Pada langkah ini dilakukan interprestasi data berupa penetapan diagnosa dasar, masalah dan kebutuhan klien berdasarkan data - data yang telah dikumpulkan sebelumnya.
Diagnosa      :    G... P... A... Parturient aterm kala I fase aktif janin tunggal hidup uterin, presentasi kepala dengan ibu dan janin baik.
Dasar            :    Kehamilan ke..... gravida..... minggu, pembukaan ... cm
Masalah        :    Apa saja yang berhubungan dengan kondisi psikologis pasien
Kebutuhan    :    Konseling tentang keluhan klien

2.2.3        Identitikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mengidetifikasikan masalah atau diagnosa pontesial lain yang mungkin terjadi berdasarkan diagnosa yang sudah ditetapkan atau diidentitikasikan. Biasanya Diagnosa pontesial pada robekan perineum derajat II biasanya terjadi perdarahan.
2.2.4        Identitikasi Kebutuhan Akan Tindakan Segera/Kolaborasi
Pada langkah ini kita menentukan kemungkinan tindakan segera harus dilakukan tindakan kolaborasi dengan dokter obgyn. Kolaborasi yang harus dilakukan bila ada penyulitan adalah dengan dokter obgyn atau dirujuk segera ke rumah sakit terdekat. Tapi biasanya pada robekan perineum derajat II tidak dilakukan kolaborasi.
2.2.5        Planning
Merencanakan asuhan yag menyeluruh berdasarkan diagnosa dan masalah yang ditegakkan oleh bidan. Menyusun rencana asuhan kebidanan dilaksanakan untuk menetapkan tindakan kebidanan yang dilakukan dalam mengatasi masalah
2.2.5.1  Beritahu Ibu dan keluarga tentang basil pemeriksaan yang telah dilakukan
2.2.5.2  Anjurkan Ibu untuk jalan-jalan atau tirah baring miring ke salah satu sisi (kiri)
2.2.5.3  Observasi kesejahteraan ibu dan janin, serta kemajuan persalinan
2.2.5.4  Berikan nutrisi yang cukup.
2.2.5.5  Berikan dukungan moral kepada ibu dan keluarga.
2.2.5.6  Siapkan partus set dan hecting set.


2.2.6        Implementasi
Pada tahap ini perencanaan yang telah tersusun dilaksanakan sesuai dengan keadaan atau kemajuan persalinan.
2.2.6.1  Memberitahu lbu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan yang telah dilakukan
2.2.6.2  Menganjurkan Ibu untuk jalan jalan atau tirah baring miring ke salah satu sisi (kiri)
2.2.6.3  Mengobservasi kesejahteraan ibu dan janin, serta kemajuan persalinan. Seperti: mengukur tanda-tanda vital, mengevaluasi kandung kemih tiap 2 jam, mengevaluasi gerak janin, mengukur DJJ tiap 30 menit, mengevaluasi pembukaan, penipisan serta turunnya bagian bagian terendah tiap 4 jam dan mengevaluasi Kontraksi tiap 30 menit.
2.2.6.4  Memberikan nutrisi yang cukup.
2.2.6.5  Memberikan dukungan moral kepada ibu dan keluarga.
2.2.6.6  Menyiapkan partus set dan hecting set.

2.2.7        Evaluasi
Pada tahap ini dilakukan evaluasi atau penilaian terhadap asuhan kebidanan yang telah dilakukan pada ibu bersalin.
2.2.7.1  Ibu mengerti tentang hasil pemeriksaan yang dilakukan.
2.2.7.2  Ibu mau jalan-jalan dan miring ke kiri.
2.2.7.3  Keadaan ibu dan janin baik.
2.2.7.4  Ibu mau minum dan makan.
2.2.7.5  Ibu merasa cukup tenang.
2.2.7.6  Partus set dan Hecting Set sudah disiapkan.
KALA II (Fase Pengeluaran)
Dimulai saat pembukaan lengkap sampai bayi lahir, prose situ berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi-para.
2.2.2        Interpretasi Data
Pada langkah ini dilakukan interprestasi data berupa penetapan diagnosa dasar, masalah dan kebutuhan klien berdasarkan data - data yang telah dikumpulkan sebelumnya.
Diagnosa      :    G... P... A... Parturien aterm kala II
Dasar            :    Kehamilan ke...., grvida..... minggu, pembukaan: 10 cm (lengkap)
Masalah        :    Ibu merasa cemas menghadapi persalinannya
Kebutuhan   :    Konseling dan kaji lebih lanjut

2.2.3        Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mengidetifikasikan masalah atau diagnosa pontesial lain yang mungkin terjadi berdasarkan diagnosa yang sudah ditetapkan atau diidentifikasikan. Diagnosa potensial terjadinya kala II lama gawat janin, rupture perineum, partus lama, partus macet, partus forsep.
2.2.4        Identifikasi Kebutuhan Akan Tindakan Segera/Kolaborasi
Pada langkah ini kita menentukan kemungkinan tindakan segera harus dilakukan tindakan kolaborasi dengan dokter obgyn. Kolaborasi yang harus dilakukan bila ada penyulitan adalah dengan dokter obgyn atau dirujuk segera ke rumah sakit terdekat.
2.2.5        Planning
Merencanakan asuhan yag menyeluruh berdasarkan diagnosa dan masalah yang ditegakkan oleh bidan. Menyusun rencana asuhan kebidanan dilaksanakan untuk menetapkan tindakan kebidanan yang dilakukan da;am mengatasi masalah
2.2.5.1  Lakukan PD Jam .... WIB, PD : V / V tak ada kelainan
Perineum        :    kaku dan tegang pada primigravida dan ada bekas luka parut pada multigravida.
Porsio             :    tidak teraba.
Pembukaan     :    10 cm (lengkap)
Ketuban         :    negative/ positif
Presentasi       :    belakang kepala
Penurunan      :    H IV

2.2.5.2  Berikan dukungan moral pada lbu dan anjurkan suami/keluarga untuk mendampingi proses persalinannya.
2.2.5.3  Anjurkan ibu cara mengedan yang benar dan berikan pada ibu untuk mengambil posisi yang nyaman.
2.2.5.4  Pimpin ibu untuk meneran apabila ada mules sampai bayi lahir spontan
2.2.5.5  Anjurkan pada ibu untuk istirahat jika tidak ada mules dan berikan minum serta pantau DJJ.
2.2.5.6  Siapkan pertolongan sampai bayi lahir spontan.
2.2.5.7  Lakukan penanganan bayi baru lahir.

2.2.6        Implementasi
Pada tahap ini perencanaan yang telah tersusun dilaksanakan sesuai dengan keadaan atau kemajuan persalinan.
2.2.6.1  Melakukan PD Jam .... WIB, PD : V / V tak ada kelainan
Perineum        :    kaku dan tegang pada primigravida dan ada bekas luka panit pada multigravida.
Porsio             :    tidak teraba.
Pembukaan     :    10 cm (lengkap)
Ketuban         :    negative/positif
Presentasi       :    kepala         
Penurunan      :    H IV
2.2.6.2  Memberikan dukungan moral pada ibu dan anjurkan suami/keluarga untuk mendampingi proses persalinannya.
2.2.6.3  Menganjurkan ibu cara mengedan yang benar dan berikan pada ibu untuk mengambil posisi yang nyaman. Seperti : tarik nafas yang panjang, kemudian lepaskan sambil kepala diangkat dan lihat ke perut dan dagu menempel di dada, tangan berada di pahallipatan lutut dan memberikan pilihan pada ibu untuk mengambil posisi yang lebih nyaman di anxaranya posisi setengah duduk, jongkok miring atau pun berdiri.
2.2.6.4  Memimpin ibu untuk meneran apabila ada mules sampai bayi lahir spontan
2.2.6.5  Menganjurkan pada ibu untuk istirahat jika tidak ada mules dan berikan minum serta pantau DJJ.
2.2.6.6  Menyiapkan pertolongan persalinan yaitu jika kepala nampak divulva berdiameter 5-6cm, tangan kanan menyokong perineum dan tangan kiri di atas sympisis sampai kepala lahir, kemudian usap dan cek apakah ada lilitan tali pusat, kemudian tunggu kepala untuk melakukan putaran paksi luar dan letakkan tangan secara biparietal kemudian tarik ke bawah terus ke atas kemudian sangga dan susur.
2.2.6.7  Melakukan penanganan bayi baru lahir, yaitu letakkan bayi di atas perut ibu dan keringkan, kemudian jepit dan klem lalu potong kemudian ganti dengan kain yang bersih dan susukan ke ibu.

2.2.7        Evaluasi
Pada tahap ini dilakukan evaluasi atau penilaian terhadap asuhan kebidanan yang telah dilakukan pada ibu bersalin normal.
Jam.... WIB,    tanggal................ bayi             lahir     spontan segera menangis, Apgar skor.......... jenis kelamin.......... BB......... gr PB....... cm.
Pada kasus dengan robekan perineum biasanya anak besar atau berat badan lebih dari 4000 aram.


KALA III (Pengeluaran Uri/Plasenta)
Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit.
2.2.2        Interprestasi Data
Pada langkah ini dilakukan interprestasi data berupa penetapan diagnosa dasar, masalah dan kebutuhan klien berdasarkan data - data yang telah dikumpulkan sebelumnya.
Diagnosa        :    kala III
Dasar              :    bayi lahir hidup spontan, segera menangi;
Masalah          :    plasenta belum lahir
Kebutuhan      :    konseling dan kali lebih lanjut

2.2.3        Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mengidetifikasikan masalah atau diagnosa pontesial lain yang mungkin terjadi berdasarkan diagnosa yang sudah ditetapkan atau diidentifikasikan. Diadnosa potensial terjadinya retensio placenta.
2.2.4        Identifikasi Kebutuhan Akan Tindakan Segera/Kolaborasi
Pada langkah ini kita menentukan kemungkinan tindakan segera harus dilakukan tindakan kolaborasi dengan dokter obvyn. Kolaborasi yang harus dilakukan bila ada penyulitan adalah dengan dokter obgyn atau dirujuk segera ke rumah sakit terdekat.
2.2.5        Planning
Merencanakan asuhan yag menyeluruh berdasarkan diagnosa dan masalah yang ditegakkan oleh bidan. Menyusun rencana asuhan kebidanan dilaksanakan untuk menetapkan tindakan kebidanan yang dilakukan dal-am mengatasi masalah.
Perencanaan yang harus dilakukan pada ibu bersalin normal pada kala III adalah lakukan manajemen aktif kala III
2.2.5.1  Cek fundus uteri
2.2.5.2  Beritahu ibu dan suntik Oxytosin
2.2.5.3  Lakukan Perenggangan tall pusat terkendali (PTT)
2.2.5.4  Pelepasan placenta.
2.2.5.5  Massage uterus

2.2.6        Implementasi
Pada tahap ini perencanaan yang telah tersusun dilaksanakan sesuai dengan keadaan atau kemajuan persalinan.
Penatalaksanaan yang harus dilakukan pada ibu bersalin normal pada kala III adalah melakukan manajemen aktif kala III
2.2.6.1  Mengecek fundus uteri untuk memastikan kemungkinan ada bayi kedua
2.2.6.2  Memberitahu ibu dan suntik Oxitosin
2.2.6.3  Melakukan Perenggangan Tall Pusat Terkendali (PTT), yaitu pidahkan, klem, posisi tangan kemudian renggangkan tetapi sebelumnya observasi tanda-tanda pelepasan placenta.
2.2.6.4  Melakukan messase uterus sampai keras dan memastikan selaput placenta lengkap.

2.2.7        Evaluasi
Pada tahap ini dilakukan evaluasi atau penilaian terhadap asuhan kebidanan yang telah dilakukan pada ibu bersalin normal.
Jam..... WIB, placenta lahir spontan lengkap dan terlihat adanya robekan perineum derajat II

KALA IV
Dimulai saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum.
2.2.2        Interprestasi Data
Pada langkah ini dilakukan interprestasi data berupa penetapan diagnosa dasar, masalah dan kebutuhan klien berdasarkan data - data yang telah dikumpuikan sebelumnya.
Diagnosa                    :  kala IV dengan robekan perineum derajat II
Dasar                          :  Placenta telah lahir secara spontan dan adanya robek pada dinding vagina dan perineum.
Masalah pontensial     :  merasa takut saat akan penjahitan
Diagnosa pontesial     :  perdararahan pada jalan lahir dan infeksi jalan lahir
Kebutuhan                 :  Konseling sesuaikan dengan masalah
2.2.3        Identifikasi DiaL),nosa dan Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mengidetifikasikan masalah atau diagnosa pontesial lain yan mungkin terjadi berdasarkan diagnosa yang sudah ditetapkan atau diidentifkasika~ Diagnosa pontesial pada robekan perineum dapat terjadi perdarahan dan infeksi.

2.2.4        Identifikasi Kebutuhan Akan Tindakan Segera/Kolaborasi
Pada langkah ini kita menentukan kemungkinan tindakan segera harus dilakuka tindakan kolaborasi dengan dokter obgyn. Kolaborasi yang harus dilakukan bila ad penyulitan adalah dengan dokter obgyn atau dirujuk segera ke rumah sakit terdekat. Tindakan segera pada robekan perineum melakukan penjahitan pada robeka perineum itu sendiri
2.2.5        Planning
Merencanakan asuhan yag menyeluruh berdasarkan diagnosa dan masalah yan ditegakkan oleh bidan. Menyusun rencana asuhan kebidanan dilaksanakan untu menetapkan tindakan kebidanan yang dilakukan da;am mengatasi masalah. Perencanaan yang harus dilakukan pada ibu bersalin normal dengan robekal perineum derajat II adalah :
2.2.5.1  Evaluasi pendarahan dan kontrksi
2.2.5.2  Cek fundus uteri
2.2.5.3  Ajarkan pada ibu tentang bagaimana melakukan message uterus
2.2.5.4  Periksakan dengan seksama dan perbaiki robekan pada perineum
2.2.5.5  Bersihkan ibu dari cairan ketuban dan darah dan pasang soft ex/pembalut
2.2.5.6  Bantu ibu mengganti pakaian
2.2.5.7  Dekontaminasi alat dan tempat tidur
2.2.5.8  Observasi pemantauan persalinan kala IV selama 2 jam
2.2.5.9  Lengkapi potograf, partograf terlampir

2.2.6        Implementasi
Pada tahap ini perencanaan yang telah tersusun dilaksanakan sesuai dengan keadaan atau kemajuan persalinan.
2.2.6.1  Mengevaluasi pendarahan dan kontrksi
2.2.6.2  Mengecek fundus uteri
2.2.6.3  Mengajarkan pada ibu tentaug bagaimana melakukan message Uterus, yaiiu dengan tangan bagian palmar diputar-putar di atas rahim ibu sampai rahim ibu keras yang berarti kontraksi baik.
2.2.6.4  Memeriksa dengan seksama dan perbaiki robekan pada perineum
2.2.6.5  Membersihkan ibu dari cairan ketuban dan darah dan pasang softex/pembalut
2.2.6.6  Membantu ibu mengganti pakaian
2.2.6.7  Mendekontaminasi alat dan tempat tidur
2.2.6.8  Mengobservasi pemantauan persalinan kala IV selama 2 jam, yaitu memeriksa tanda-tanda vital, tinggi fundus uteri, kontraksi uterus. pendarahan, dan kandung kemih tiap 15 menit pada jam pertama dan 30 menit pada jam kedua.
2.2.6.9  Melengkapi partograf, partograf terlampir
2.2.7        Evaluasi
Pada tahap ini dilakukan evaluasi atau penitaian terhadap asuhan kebidanan yam telah dilakukan pada ibu bersalin normal dengan robekam perineum derajat II.
2.2.7.1  Pendarahan sedikit dan kontraksi baik
2.2.7.2  Robekan perineum sudah diperbaiki dengan seksama
2.2.7.3  Ibu mengerti dan bisa melakukan message uterus
2.2.7.4  Ibu sudah bersih dan merasa nyaman
2.2.7.5  Pakaian ibu sudah diganti
2.2.7.6  Peralatan dan tempat persalinan telah dibersihkan
2.2.7.7  Pemantauan persalinan kala IV selama 2 jam terlampir dalam partograf
2.2.7.8  Partograf telah dilengkapi, partograf terlampir

BAB III
TINJAUAN KASUS


Tanggal Pengkajian           :    12 Februari 2008
Pukul                                 :    09.10 WIB
Tempat                               :    BPS
Oleh                                   :   
Pengumpulan Data
3.1.1        Data Subjektif
3.1.1.1  Identitas
Nama                                        Ny.N                    Tn. A
Usia                                          29 Tahun              40 Tahun
Pendidikan                               SD                       SD
Pekerjaan                                  Tidak bekerja       Pegawai Swasta


3.1.1.2  Anamnesa
a.       Alasan masuk kamar bersalin
Ibu merasa mules-mules dan sudah ada sedikit pengeluaran darah bercampur lendir
b.      Riwayat Obstetri Yang Lalu
Belum pernah hamil, hamil ini adalah kehamilan yang pertama.
c.       Riwayat menstruasi
HPHT : 5 Mei 2007 HTP :12 Februari 2008, lamanya 6 hari banyaknya 3 X ganti pembalut, sifat darah encer, dismenorhoe kadang-kadang.
d.      Perasaan sejak datang ke klinik ibu merasa cemas
e.       Tanda-tanda bersalin:
Kontraksi      :    Sejak tanggal 12 Februari 2008 Pukul 08.00 WIB.
                           Frekuensi     3x dalam I0 menit
                           Lamanya : 30 detik
f.       Pengeluaran pervaginam
Darah lendir    : ada, warna: merah muda, jumlah: sedikit
Air ketuban     : tidak ada
Darah              : tidak ada
g.      Masalah-masalah khusus: tidak ada
h.      Riwayat imunisasi: Imunisasi TT 2X namun ibu lupa dengan tanggalnya.
i.        Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu : Merupakan kehamilan pertama tidak pernah keguguran.
j.        Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir 20 kali
k.      Makanan terakhir jam 19.45 W1B tanggal 24 April 2007 dan minuman terakhir jam 21.00 WIB tanggal 24 April 2007
l.        BAB terakhir pukul : 03.00 WIB tanggal 12 Februari 2008
BAK terakhir pukul : 07. 00 WIB tanggal 12 Februari 2008
m.    Psikologis: Ibu merasa gelisah dan cemas
n.      Keluhan lain: tidak ada


3.1.2        Data Objective
3.1.2.1  Pemeriksaan Fisik
a.       Keadaan umum lbu               :    Baik
Keadaan emosional ibu         :    Stabil
Kesadaran                             :    Composmentis
b.      Tensi darah                           :    110/70 mmHg
Suhu tubuh                           :    36.7 °C
Denyut nadi                          :    80 X/menit
Pernafasan                            :    22 X/menit
c.       Tinggi badan                         :    155 cm
BB sebelum hamil                 :    47 Kg
BB sekarang                         :    56 Kg
Lila                                        :    24 Cm

3.1.2.2  Pemeriksaan Fisik Secara Sistematik
a.    Rambut           :    Warna hitam, tidak rontok, kulit kepala bersih
b.   Muka              :    Tidak oedema & tidak ditemukan cloasma gravidarum
c.    Mata               :    Letak            ®       simetris
                                 Conjungtiva ®        merah muda
                                 Sklera           ®       putih
                                 Kelopak mata ®     tidak oedema

d.   Mulut & Gigi  :    Stomatitis     ® tidak ada
                                 Caries           ® tidak ada
                                 Lidah            ® merah agak keputihan/bersih
e.    Dada
Payudara         :    Pembesaran       ®  ada
                            Benjolan            ®  tidak ada
                            Rasa nyeri          ®  tidak ada
                            Bentuknya         ® simetris
                            Putting              ® menonjol
                            Hiperpigmentasi® areola mamae
                            Colostrum          ®  sudah keluar
                            Kebersihan        ®  bersih
Jantung           :    tidak ada kelainan, bunyi reguler
Paru-paru        :    tidak ada kelainan, tidak ada bunyi
                            wheezing dan tidak ada bunyi ronchi
f.    Punggung &   :    Posisi tulang belakang: lordosis
Pinggang              Nyeri ketuk pinggang : tidak ada    nyeri ketuk
g.   Abdomen        :    Bekas luka operasi   tidak ada
                                 Pembesaran : sesuai dengan  umur
                                 Kehamilan
                                 Striae albican     :     ada
                                 Linea nigra        :     ada
                                 Konsistensi   :    tegang

h.   Extremitas      :    Atas              :    tidak pucat telapak tangan & tidak oedema
                                 awah             :    tidak oedema & varises, reflex Patella ka/ki +/+

3.1.2.3  Pemeriksaan Kebidanan
a.       Pemeriksaan Leopold
Leopold I      :    TFU: 33 cm, teraba bagian lunak besar dan tidak melenting
Leopold II     :    Teraba tahanan memanjang datar seperti papan sebelah kanan (punggng) dan sebelah kiri bagian­ terkecil janin
Leopold III   :    Bagian uterus sebelah bawah teraba bulat, keras dan tidak bisa digoyangkan dan sudah masuk PAP
Leonold IV   :    Kepala masuk ke dalam rongga panggul dan ukuran terbesar dari kepala sudah melewati PAP (sejajar) dengan menggunakan perlimaan: penurunan kepala 3/5
b.      Pemeriksaan Auskultasi
Denyut jantung janin   :    128x/mnt
Frekuensi                     :    teratur
Puctum maksimum      :    PUKA
c.       Pemeriksaan Genetalia
Perineum                     :    tidak ada luka parut
Varises                         :    tidak ada
Pengeluaran                 :    lendir darah campur darah
Vulva/vagina               :    normal tidak ada kelainan
Kelenjar bartholini       :    tidak ada pembesaran
Luka                            :    tidak ada
Anus                            :    tidak ada haemoroid
                                   
Pemeriksaan dalam
Vagina                         :    tidak ada kelainan
Portio                           :    tipis lunak
Pembukaan                  :    4 cm
Ketuban                       :    utuh
Persentasi                    :    kepala
Penurunan bagian terendah    : Hodge II - III
KALA I
Tanggal 12 Februari 2008 Pukul 19.00 WIB
3.2    Assesment
G1 P0 A0 Parturient aterm kala I fase laten, janin hidup tunggal intra uterin, letak memanjang, presentasi kepala dengan keadaan ibu dan janin baik.

3.3    Planning
3.3.1        Memberitahu ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan yang telah dilakukan ibu mengerti tentang hasil pemeriksaan yang dilakukan.
3.3.2        Memberikan dukungan kepada ibu dan keluarga ® ibu terlihat lebih tenang
3.3.3        Menjelaskan kepada ibu dan keluarga serta lakukan perubahan posisi ® ibu melakukan perubahan posisi dengan miring ke sebelah kiri
3.3.4        Memberikan makan dan minum sesuai keinginan ibu ® ibu mau makan dan minum yang telah disajikan
3.3.5        Menganjurkan suami/keluarga untuk selalu mendampingi ibu ® suami/keluarga selalu mendampingi ibu
3.3.6        Menyiapkan partus set, hacting set dan lain-lainnya ® partus set dan hacting set telah siap
3.3.7        Observasi kemajuan persalinan dan melakukan pendokumentasi pada partograf ® partograf terlampir

KALA II
Tanggal 12 Februari 2008 Pukul 23.00 WIB
Subjective
Ibu mengatakan mules - mules yang sering dan ingin meneran, seperti ingin BAB
3.1    Objective
His                            :    5 x dalam 10 menit frekuensi 45 detik
DJJ                           :    142 x / menit
Suhu                         :    37 oC
Respirasi                   :    24 x / menit
Pulse                         :    88 x / menit
Tekanan Darah         :    110 / 90 mmHg
Dilaksanakan PD      :    pada jam 23.00 WIB, dengan hasil : v/v tidak ada kelainan, dengan portio tidak teraba, pembukaan 10 cm, Hodge IV, persentasi belakang kepala dengan UUK ka Dep, kandung kemih kosong, ketuban sudah pecah jernih.
3.2    Assesment
G1 P0 A0 Parturient aterm kala II dengan KU baik

3.3    Planning
3.3.1        Memberitaukan kepada ibu bahwa pembukaan telah lengkap ® ibu mengetahui bahwa pembukaan telah lengkap
3.3.2        Menghadirkan pendamping persalinan dan memberikan dukungan moral terus­menerus kepada ibu dengan mendampingi ibu agar merasa nyaman dan meyakinkan dirinya ® ibu terlihat lebih tenang setelah diberikan dukungan dan meyakinkan dirinya.
3.3.3        Memberikan cukup minum untuk memberi tenaga dan mencegah dehidrasi ® ibu minum teh manis 1 gelas
3.3.4        Mengatur posisi mengedan 4 posisi tangan memegarlg kedua pergelangan kaki sambil mengedan, dagu ditempelkan ke dada (jika ada mules), jika tidak ada mules anjurkan ibu untuk istirahat dan tarik nafas ® cara meneran ibu sudah benar
3.3.5        Menyiapkan diri dan kelengkapan alat-alat menggunakan celemek dan handscoon
3.3.6        Mengobservasi nadi, DJJ dan kotraksi setiap 30 menit sekali ® nadi = 88x/mnt, kontraksi 5 menit dalam sepuluh menit lamanya 50 detik, DJJ = 142 x/mnt: teratur
3.3.7        Melakukan pertolongan 60 langkah persalinan 4 bayi lahir spontan jam 07.00 WIB segera menagis dengan jenis kelamin (perempuan) letak belakang kepala a/s 9/9 BB = 3100 gram, PB = 48 cm

KALA III
Tanggal 25April 2007 Pukul 01.10 WIB
3.1    Subjective
Ibu mengatakan ibu merasa mules - mules
Objective
Perdarahan sekonyong - konyong tali pusat memanjang
3.2    Assesment
P1A0 Parturien atern kala III
3.3    Planning
3.3.1        Melaksanakan manajemen aktif kala III
3.3.1.1  Menyuntik oxitocin 10 unit (IM) selambat-lambatnya 2 nnenit setelah bayi lahir ® oxitocin telah diberikan kurang dari 2 menit
3.3.1.2  Melakukan PTT, klem dipindahkan ± 5-l0 cm dari vulva ® placenta lahir spontan lengkap jam 01.10 WIB

3.3.2        Mengecek kandung kemih ® kandung kemih kosong
Melakukan massae fundus uteri ® dilakukan massae kontraksi uterus baik konsentrat keras

KALA IV
Tanggal 05 april 2006 Pukul 01.30 W1B
3.1    Subjective
-
Objective
TFU 2 jari dibawah pusat
Mengecek perdarahan dan robekan perineum ® perdarahan + 100 cc dan robekan perineum derajat II

3.2    Assesment
Kala IV dengan luka perineum derajat
3.3    Planning
3.3.1        Mengajarkan ibu massae bila uterus tidak berkontraksi ® ibu mengetahui bagaimana cara massae uterus jika tidak berkontraksi
3.3.2        Menjahit luka perineum tidak menggunakan anastesi ® luka perineum dijahit jelujur
3.3.3        Mengajarkan ibu massae bila uterus tidak berkontraksi ® ibu mengetahui bagaimana cara massae uterus jika tidak berkontraksi
3.3.4        Memberikan asuhan sayang ibu seperti
Membersihkan ibu dari cairan ketuban dan darah ® ibu bersih dari air ketuban dan darah
Membantu ibu menganti pakaian ® ibu merasa nyaman dan bersih
3.3.5        Dekontaminasi alat dan tempat persalinan ® alat dan tempat persalinan telah dibersihkan
3.3.6        Mengobservasi TTV, kandung kemih, kontraksi uterus, TFU, dan perdarahan selama 2 jam (15 menit sekali pada 1 jam pertama dan 30 menit sekali pada jam kedua) ® TD 110/70 mmHg, N 84 x/mnt, suhu = 36°C, kontraksi baik,
TFU = 2 jari di bawah pusat, kandung kemih kosong, perdarahan ± 50 cc.
3.3.7        Memberikan cukup makan dan minum ® makanan yang disajikan ibu mau memakannya dan minum 1 gelas
3.3.8        Menganjurkan ibu untuk senyaman mungkin ® ibu istirahat dengan tenang
3.3.9        Pendokumentasian telah dilakukan secara SOAP dan patograf terlampir

BAB IV
PEMBAHASAN


Setelah penulis melakukan pengkajian "Asuhan Kebidanan Pada Ny. E Persalinan Normal dengan Robekan Perineum Derajat II” maka penulis mendapatkan data - data sebagai berikut :
4.1      Pengkajian
Pada saat melakukan pengkajian atau pengumpulan data - data yang diperlukan. Ny. E dapat berkomunikasi dengan baik dan kooperaktif dalam menjawab dengan baik yang ditanyakan sehingga penulis memperoleh data yang cukup dan akurat bahkan klien menceritakan dengan antusias, dalam pengkajian pada Ny. E ditemukan data - data ibu mengaku belum pernah abortus dan melahirkan, HPHT 13 Juli 2006 dengan TFU 34 cm dengan bagian terendah janin belakang kepala, kontraksi semakin meningkat sehingga mempengaruhi pembukaan serviks, nyeri pada bagian pinggang merasa ingin BAB dikarenakan terjadi penekanan uterus pada kandung kemih dan rectum, pengeluaran lendir dan darah. Sehingga penulis didapat Ny. R GlPo An inpartu gravida 37 minggu kala I fase Aktif, janin hidup, intra uteri, letak memanjang presentase belakang kepala, keadaan umum ibu dan janin baik, sehingga tidak ada kesenjangan antara teori dengan data yang didapat karena menurut teori persalinan normal dengan robekan perineum derajat II dapat teridentifikasi dengan inspeksi akan terlihat terjadinya robekan pada perineum, robekan perineum lebih sering terjadi pada primigravida namun tidak jarang teijadi juga pada multigravida. Sehingga tidak menimbulkan kesenjangan antara praktek dilapangan dengan teori.

4.2      Interprestasi Data
Data yang penulis dapatkan dari Ny. E P1Ao persalinan normal dengan letak belakang kepala dan terjadi robekan perineum derajat lI adalah kontraksi semakin meningkat sehingga mempengaruhi pembukaan serviks, nyeri pada daerah pinggang merasa ingin BAB karena adanya penekanan pada daerah uterus dan kandung kemih dan daerah rectum, pengeluaran lendir dan darah (show), pada teori robekan perineum lebih sering terjadi pada primigravida namun tidak jarang terjadi jug a pada multigravida. Ny. E setelah bayi lahir terjadi robekan perineum derajat II. Dengan demikian penulis tidak menemukan kesenjangan antara prak-tek dilapangan dengan teori.

4.3      Indentifikasi Masalah dan Diagnosa Potensial
Menurut teori diagnosa pontesial yang mungkin akan terjadi perdarahan pada jalan lahir dan infeksi jalan lahir. Berdasarkan data yang didapat dan setelah melakukan asuhan kebidanan pada ibu bersalin normal dengan robekan peineum ditemukan perdarahan hanya ± 150 cc dan tidak terjadi infeksi pada Ny. E sehingga terjadi kesenjangan antara teori dan praktek.

4.4      Identifikasi kebutuhan Akan tindakan Segera/Kolaborasi
Pada kasus Ny. E dengan robekan perineum, tindakan yang dilakukan yaitu dilakukan penjahitan robekan perineum tanpa dengan anastesi untuk mengurangi pendarahan dan sesuai den-an standar asuhan kebidanan. Setelah penjahitan perdarahan berangsur - angsur berkurang dan infeksi pada jalan lahir tidak terjadi. Sehingga tidak terjadi kesenjangan antara praktek dilapangan dan teori.
4.5      Perencanaan asuhan kebidanan secara menyeluruh
Dalam menyusun rencana sesuai dengan standar asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan robekan perineum derajat II yang disesuaikan dengan teori dari kewenangan seorang bidan yaitu lakukan penjahitan luka perineum dengan anastesi dikarenakan menerapkan asuhan sayang ibu, observasi pendarahan dan kontraksi uterus, observasi tanda-tanda vital dan kandung kemih. Sehingga tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek.

4.6      Penatalaksanaan Asuhan Kebidanaan Yang Telah Tersusun
Dari perencanaan yang telah disusun tidak semua dilaksanakan dikarenakan pada kasus Ny. E dengan robekan perineum tidak dilakukan anastesi sebelum penjahitan luka karena keadaan emosional ibu yang masih labil sehingga tidak dilakukan anastasi hanya memotifasi ibu untuk tenang dan beri dukungan pada ibu. Padahal dalam teori penjahitan robekan perineum dilakuan anastesi terlebih dahulu. Sehingga terjadi kesenjangan antara teori dan praktek.

4.7      Evaluasi
Setelah dilakukan pertolongan persalinan normal dengan robekan perineum derajat II dan setelah memberikan asuhan, diharapkan keadaan umum ibu dan bayi baik, dan ibu dapat melakukan mobilitas dim (miring kiri atau kanan, duduk dan jalan) guna mempercepat proses penyembuhan pada luka perineum. Dan, ibu mengerti tentang nasihat yang diberikan oleh bidan sepertgi massage uterus untuk proses involusi uterus dan perawatan luka perineum.

BAB V
PENUTUP

5.1    Kesimpulan
Setelah penulis melakukan asuhan kebidanan pada Ny. E dengan persalinan normal dengan robekan perineum derajat II maka penulis dapat menarik kesimpulan : asuhan kebidanan pada ibu inpartu dilakukan menyeluruh dengan standar 60 langkah asuh persalinan normal dilakukan secara menyeluruh robekan perineum dapat saja terjasi dengan faktor penyebabnya pros pengeluaran yang terlalu cepat keluar pada waktu persalinan, suspec bayi besar, persalin buatan, arcus pubis sempit, perineum kaku, posisi occipito posterior. Dengan demiki ~aktor primigravida tidak menjamin perineum utuh pada saat melahirkan. Robekan perineu derajat II ini adanya perlukaan yang dalam dan luas pada vagina dan perineum, dengan melukai fasia serta otot - otot diagfragma urogenetale. Penjahitan robekan perineum derajat II dilakuan tanpa dengan anastesi terlebih dahulu padahal di teori penjahitan perinet dilakukan anastesi terlebih dahulu sedangkan di lapangan tidak menggunakan anastesi terlebih dahulu. Masalah pontesial yang dapat teijadi adalah perdarahan pada jalan lahir dengan infeksi jalan lahir, tetapi pada kasus Ny. E tidak terjadi perdarahan maupun infeksi jal lahir, sehingga tidak memerlukan tindakan tim-medis yang lain. Dalam pengumpulan data pada Ny.E penulis tidak menemukan kesulitan yang berarti, penulis dapat menggali da yang sebanyak mungkin pada Ny. E dan keluarga sehingga memudahkan untuk menentuk asuhan kebidan pada Ny.

5.2    Saran
5.2.1        Bagi BPS
Hendaknya dapat meningkatkan pelayanan kesehatan semua pasien tan memandang status ataupun yang lainnya. Selain itu diharapkan untuk melengka peralatan yang belum tersedia bagi pelayanan kebidanaan. Selain itu juga hendakn. diharapkan untuk melakukan pemeriksaan yang selengkap - lengkapnya kepa, pasien untuk mendeteksi secara dini kemungkinan - kemungkinan yang bisa terjadi

5.2.2        Bahi Program Study Diploma III Kebidanan
Diharapkau uvtui: member ikau keSBWpatav kepada mahlasiswi agar lebih meningkatkan pengetahuannya dengan cara membaca dari buku dan sumber teori yang didapatkan. Dan diharapkan agar sering mengujungi mahasiswi lapangan.
5.2.3        Bagi Ny. E
Diharapkan lebih banyak istirahat tapi harus mobilissi dini menjaga kebersihan diri, khususnya daerah kemaluan bekas luka robekan.


No comments:

Post a Comment