Monday, May 28, 2012

RADANG DAN BEBERAPA PENYAKIT LAIN PADA ALAT-ALAT GENITAL WANITA


RADANG DAN BEBERAPA PENYAKIT LAIN PADA ALAT-ALAT GENITAL WANITA

RADANG
Pada wanita terdapat hubungan dari dunia luar dengan rongga peritoneum melalui vulva, vagina, uterus dan tuba falloppi. Untuk mencegah terjadinya infeksi dari dunia luar dan untuk menjaga  jangan sampai infeksi melauas, masing – masing alat traktus genatalis memiliki mekanisme pertahanan.
Vulva umumnya lebih resisten terhadap infeksi, sehingga luka-luka ringan
lekas sembuh, kecuali jika kemasukan kuman-kuman yang benar-benar
patogen. Penutupan vulva oleh labia mayora dan labia miridra sedikit banyak
memberi perlindungan terhadap infeksi.        
Pada vagina wanita dewasa adanya epitel yang cukup tebal dan glikogen serta basil Doderlein yang memungkinkan pembuatan asidum laktikum sehingga terdapat reaksi asam dalam vagina, memperkuat daya tahan vagina. Dalam vagina terdapat banyak kuman lain, akan tetapi dalam keadaan normal basil Doderlein dominan, Pada masa kanak-kanak dan dalam masa sesudah menopause epitel lebih tipis dan glikogen serta basil Doderlein berkurang, dan ini merupakan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya. infeksi.
Pada serviks uteri kelenjar-kelenjar mengeluarkan lendir yang alkalis serta mengental di bagian bawah kanalis servikalis, dan ini menyukarkan masuknya kuman ke atas. Jika terdapat infeksi di endometrium, maka terlepasnya dan dikeluarkannya sebagian besar endometrium pada waktu haid menyukarkan radang untuk terus bertahan.
Getaran rambut getar pada mukosa tuba Falloppii menyebabkan jalannya aras ke arah uterus, dan ini disokong oleh gerakan peristaltic tuba yang merupakan halangan pada infeksi untuk terus meluas ke rongga peritoneum.
Kuman-kuman dapat memasuki traktus genitalis wanita dengan berbagai jalan. Koitus dapat menyebabkan periyakit kelamin (STD = Sexual Transmitted Diseases) seperti gonorea, sifilis, ulkus molle, AIDS (aqttired immune deficiency syndrome), granuloma inguinale dan limphogranuloma venereum. Di samping itu ada penyakit-penyakit lain seperti herpes genitalis dan trikomoniasis yang untuk sebagian besar ditularkan melalui koitus. Trauma pada vulva dan vagina sebagai akibat perlukaan, kebakaran dan Iain-lain merupakan pulaported'eniree bagi kuman-kuman dari luar. Selanjutnya adanya benda asing (korpus alienum) di vagina atau uterus, melakukan tindakan atau pemeriksaan dengan alat-alat yang tidak suci hama, dapat menimbulkan infeksi. Pada waktu dan sesudah partus atau abortus, kemungkinan infeksi dan meluasnya infeksi itu juga lebih besar karena
1)      Kadang-kadang keadaan umum mundur;
2)      Terdapat luka besar di uterus di bekas tempat plasenta, serta luka-luka kecil pada serviks uteri, vagina, dan vulva;
3)      Hubungan antara kavum uteri dan dunia luar lebih terbuka;
4)      Lokia terdiri atas darah, dan sisa-sisa desidua merupakan tempat pembiakan baik untuk kuman-kuman.
Kuman-kuman dapat pula menjalar dari alat-alat di sekitamya yang sedang mengalami peradangan misalnya appendisitis akuta. Selain itu dapat pula infeksi dibawa dari tempat yang jauh dengan jalan darah, misalnya tuberkulosis paru-paru dapat menyebabkan adneksitis tuberkulosa. Demikian pula — walaupun lebih jarang — dengan jalan yang sama dapat terjadi infeksi alat-alat genital dari tempat focal infection misalnya pada gigi. Akhirnya kuman-kuman yang terdapat di vagina sebagai saprofit yang tidak patogen, dapat menjadi pathogen
dan menimbulkan peradangan, bila daya tahan badan dan alat genital oleh salah satu sebab menurun.
Radang pada alat-alat genital dapat timbul secara akut dengan akibat meninggalnya penderita, atau penyakit bisa sembuh sama sekali tanpa bekas, atau dapat meninggalkan bekas seperti penutupan lumen tuba. Penyalut akut bisa juga menjadi menahun, atau penyakit dari permulaan sudah menahun.
Infeksi pada uterus menjalar ke tuba Falloppii dan rongga peritoneum melalui 2 jalan. Pada gonorea penyakit menjalar dari endometrium ke mukosa tuba terus ke ovarium dan rongga peritoneum, sedang pada infeksi puerperal kuman-kuman dari uterus melalui darah dan limfe menuju ke parametrium, tuba, ovarium dan rongga peritoneum.


LEUKOREA

Leukorea {white discharge, fluor albas, keputihan) adalah nama gejala yang diberikan kepada cairan yang dikeluarkan dari alat-alat genital yang, tidak berupa darah. Mungkin leukorea merupakan gejala yang paling sering dijumpai pada penderita ginekologik; adanya gejala ini diketahui penderita karena mengotori celananya.
Dapat dibedakan antara leukorea yang fisiologik dan yang patologik. Leukorea fisiologik terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang, sedang pada leukorea patologik terdapat banyak leukosit.
Leukorea fisiologik ditemukan pada:
a) Bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari; di sini sebabnya ialah
pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin;
b) Waktu di sekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen;
leukorea di sini hilang sendiri, akan tetapi dapat menimbulkan keresahan
pada orang tuanya;
c) Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus,
disebabkan oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina;
d)Waktu di sekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-keienjar serviks uteri
menjadi lebih encer;
e) Pengeluaran sekret dari kelenjar-keienjar serviks uteri juga bertambah pada
wanita dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan     ektropion porsionis uteri.
Penyebab paling penting dari leukorea patologik ialah infeksi  Di sini cairan mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-kuningan sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau. Radang vulva, vagina, serviks dan kavum uteri dapat menyebabkan leukorea patologik; pada adneksitis gejala tersebut dapat pula timbul. Selanjutnya leukorea ditemukan pada neoplasma jinak atau ganas, apabila tumor itu dengan permukaannya untuk sebagian atau seluruhnya memasuki lumen saluran alat-alat genital.

VULVA
Vulva terdiri atas komponen - komponen sebagai berikut: mons veneris, labia mayora, labia minora, klitoris dengan orifisium urethra eksternum, glandula bartholini dan glandula paraurethralis.
Pada radang vulva (yulyitis) vulva membengkak  merah dan agak nyeri,
kadang-kadang
Umumnya vulvitis dapat dibagi dalam tiga golongan  :
a)  yang bersifat lokal;
b)  yang timbul bersama-sama atau sebagai akibat vaginitis;
c)  yang merupakan permulaan atau manifestasi dari penyakit umum.
Yang termasuk ke dalam golongan vulvitis lokal ialah:
1)  infeksi pada kulit, termasuk rambut, kelenjar-kelenjar sebasea dan kelenjar-
kelenjar keringat. Infeksi ini timbul karena trauma luka atau sebab lain, dan
dapat menimbulkan folikulitis, furunkulosis, hidradenitis, dan sebagainya;
2)  infeksi pada orifisium urethra eksternum, glandula paraurethralis. Infeksi ini
biasanya disebabkan oleh gonorea dan akan dibahas pada bab ini;          
3)  infeksi pada glandula Bartholini.

Infeksi pada glandula Bartholini (Bartholinitis) sering kali timbul pada gonorea tetapi dapat mempunyai sebab lain, misalnya streptokokus, atau basil koli. Pada Barthohinitis akuta kelenjar membesar, merah, nyeri dan lebih panas daripada daerah sekitarnya. Isinya cepat menjadi nanah yang dapat keluar melalui duktusnya, atau jika duktus tersumbat, mengumpul didalamnya dan menjadi abses yang kadang-kadang dapat menjadi sebesar telur bebek. Jika belum menjadi abses, keadaan bisa diatasi dengan antibiotika jika sudah bernanah mencari jalan sendiri atau harus dikeluarkan dengan sayatan. Radang pada glandula Bartholini dapat terjadi berulang-ulang dan. akhirnya dapat menjadi menahun dalam bentuk kista Bartholini.
Kista Bartholini tidak selalu menyebabkan keluhan, akan tetapi kadang-kadang dirasakan sebagai benda berat dan/atau menimbulkan kesulitan pada koitus. Jika kistanya tidak besar dan tidak menimbulkan gangguan, tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa; dalam hal lain perlu dilakukan pembedahan. Tindakan ltu terdiri atas ekstirpasi, akan tetapi tindakan ini bisa menyebabkan perdarahan. Akhir-akhir ini dianjurkan marsupialisasi. sebagai tindakan tanpa risiko dan dengan hasil yang memuaskan. Pada tindakan ini setelah diadakan sayatan dan isi kista dikeluarkan, dinding kista yang terbuka dijahit pada kulit vulva yang terbuka pada sayatan.
Golongan vulvitis yang timbul bersama atau sebagai akibat vaginitis, hal ini akan dibahas pada pembicaraan "vaginitis".










Dalam golongan vulvitis sebagai permulaan atau manifestasi penyakit umum, terdapat antara lain:
1)      penyakit-penyakit kelamin. Yang dianggap penyakit kelamin klasik ialah gonorea sifis, ulkus molle, linifogranuloma venereum, dan granuloma inguinale;   semuanya  akan  dibicarakan  dalam  bab  ini  (infeksi-infeksi khusus);
2)      tuberkulosis; juga dibicarakan dalam bab ini (infeksi-infeksi khusus);
3)      vulvitis disebabkan oleh infeksi karena virus. Terrnasuk di sini limfogranuloma venereum, herpes genitalis dan kondiloma akuminatum. Limfogranulo-ma venereum dibahas dalam bab ini (infeksi-infeksi khusus) vulvitis pada diabetes mellitus.




HERPES GENITALIS

Herpes genitalis disebabkan oleh tipe 2 herpes virus hominis, yang dekat hubungannya dengan tipe 1 herpes virus simpleks, penyebab herpes labialis. Herpes genitalis umumnya dianggap sebagai akibat hubungan seksual dan terjadi dalam 3 sampai 7 hari sesudah koitus. Jika penyakit timbul, di tengah-tengah daerah dengan radang dan edema tampak sejumlah vesikel yang biasanya berlokasi pada labia minora, bagian dalam labia mayora dan prepusium klitoridis. Tempat-tempat itu dirasakan panas dan gatal, dan karena digaruk sering timbul infeksi sekunder. Kadang-kadang tampak pula ulkus-ulkus kecil yang dangkal. Selain pada vulva penyakit ditemukan pula pada vagina dan serviks uteri yang menyebabkan leukorea, perdarahan, dan disuria. Dengan pengobatan simptomatis biasanya penyakit sembuh sendiri, akan tetapi ada kemungkinan timbul kembali. Timbulnya kembali ini mungkin merupakan  reaktivasi dari infeksi yang sesungguhnya tidak sembuh, dan tinggal laten. Selanjutnya virus mungkin memegang peranan dalam tumbuhnya karsinoma servisis uteri. Penelitian ke jurusan itu kini sedang dilakukan dengan giat. Diagnosis herpes genitalis dapat dibuat dengan jalan pembiakan pada luka-luka di vulva, vagina, atau serviks dan dengan tes serologik. Sebagai terapi dapat dilakukan terapi simptomatis dengan obat-obat yang mengurangi rasa nyeri dan gatal,  dan yang mengeringkan  daerah yang  kena  infeksi.  Akhir-akhir ini ditemukan bahwa virus dapat diberantas dengan aplikasi lokal dari 1% larutan neutral-red atau 0,1%  larutan proflavine, diikuti dengan penyinaran sinar fluoresensi (20—30 watt) untuk 10—15 menit dengan jarak 15—20 cm.

KONDILOMA AKUMINATUM
Kondiloma akuminatum berbentuk seperti kembang kubis (cauliflower) dengan di tengahnya jaringan ikat dan ditutup terutama di bagian atas oleh epitel dengan hiperkeratosis. Penyakit terdapat dalam bentuk kecil dan besar, sendirian atau dalam suatu kelompok. Lokasinya ialah pada berbagai bagian vulyaj__gada perineum, pada daerah perianal, pada vagina dan serviks uteri. Dalam hal-hal yang terakhir ini terdapat leukorea.
 








Kondiloma akuminata kiranya disebabkan oleh suatu jenis virus yang  banyak persamaannya dengan penyebab veruka vulgaris. Adanya leukorea oleh sebab lain memudahkan tumbuhnya virus dan kondiloma akuminata. Kelainan ini juga lebih sering ditemukan pada kehamilan karena lebih banyak vaskularisasi dan cairan pada jaringan. Umumnya diagnosis kondiloma akuminata  tidak   sukar  dibuat,   dan  dapat  dibedakan  dari   kondilomata   lata,   suatu  manifestasi dari sifilis.
Kondiloma akuminatum yang kecil dapat disembuhkan dengan larutan 10% podofilin dalam gfeerin atau dalam alkohol. Pada waktu pengobatan daerah sekitarnya harus dilindungi dengan vaselin, dan setelah beberapa jam tempat pengobatan hams dicuci dengan air dan sabun. Pada kondiloma yang luas, terapinya terdiri atas pengangkatan dengan pembedahan atau kauterisasi. Untuk mencegah timbuhiya residif, harus diusahakan kebersihan pada tempat bekas kondiloma akuminata, dan leukorea harus diobati.

VULVITIS DIABETIKA
Pada vulvitis diabetika vulva merah dan sedikit membengkak. Keluhan terutama rasa gatal, disertai rasa nyeri. Jaringan pada penderita diabetes mengandung kadar glukosa yang lebih tinggi, dan air kencing dengan glukosuria menjadi penyebab peradangan. Oleh karena itu pada penderita dengan vulvitis yang sebabnya tidak terang, perlu dipikirkan adanya diabetes. Vulvitis diabetika kadang-kadang dapat disertai dengan moniliasis.
Terapi terdiri atas penguasaan penyakit diabetes mellitus dan pengobatan lokal.

VAGINA

Flora vagina terdiri atas banyak jenis kuman, antara lain basil Doderlein, streptokokus, stafilokokus, difteroid, yang dalam keadaan normal hidup dalam simbiosis antara mereka. Jika simbiosis ini terganggu, dan jika kuman-kuman seperti streptokokus, stafilokokus, basil koli, dan Iain-lain dapat berkembang biak, timbullah vaginitis nonspesifik. Umumnya vaginitis nonspesifik dapat disembuhkan dengan antibiotika. Selain itu, terdapat vaginitis karena trikomo-nas vaginalis, kandida albikans, dan hemofilus vaginalis. Perlu dikemukakan di sini bahwa pada masa dewasa vagina lebih tahan terhadap infeksi-infeksi, terutama gonorea, pada masa sebelum pubertas dan setelah menopause vagina lebih peka terhadap infeksi.
Gejala yang penting pada vaginitis ialah leukorea terdiri dari cairan yang kadang-kadang bercampur dengan lendir, dan dapat menjadi mukopurulen. Gejala ini sering disertai oleh rasa gatal dan membakar. Vaginitis biasanya disertai oleh vulvitis. Permukaan vagina dan vulva pada vulvovaginitis menjadi merah dan agak membengkak, pada vagina dapat ditemukan pula bintik-bintik merah (vaginitis granularis). Pada vaginitis basil Doderlein jarang terjadi  tidak ada; fluor yang dikeluarkan mengandung banyak leukosit.

TRIKOMONIASIS
Vulvovaginitis ini disebabkan oleh trikomonas vaginalis. Trikomonas dapat ditemukan dalam jumlah kecil dalam vagina tanpa gejala apa pun, akan tetapi dalam beberapa hal yang ada hubungannya dengan perubahan kondisi lingkungan, jumlah dapat bertambah banyak dan menimbulkan radang. Peterson melaporkan bahwa 24,6% dari apusan vagina yang diambil secara rutin pada penderita obstetri dan ginekologi menunjukkan adanya trikomonas vaginalis.
Trikomonas vaginalis adalah suatu parasit dengan flagella yang bergerak sangat aktif. Walaupun infeksi dapat terjadi dengan berbagai cara, penularan dengan jalan koitus ialah cara yang paling sering terdapat. Dalam hubungan ini parasit pada pria dengan trikomonas biasanya terdapat (tanpa gejala) di urethra dan prostat.
 















Vaginitis karena trikomonas menyebabkan leukorea yang encer sampai kental, berwarna kuning-kuningan dan agak berbau. Penderita mengeluh tentang adanva fluor yang menyebabkan rasa gatal dan membakar. Di samping itu kadanc-kadang ada gejala urethritis ringan seperti disuria dan sering kencing. Parasit biasanya dengan mudah dijumpai di tengah-tengah leukosit pada sediaan yang dibuat dengan mengambil sekret dari dinding vagina dicampur dengan satu tetes larutan garam fisiologik di atas gelas objek. Sediaan diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran sedang dan dengan cahaya yang dikurangi sedikit.
Parasit dapat dikenal dengan melihat gerakan-gerakannya, bentuknya lonjong dengan flagella yang panjang dan membran yang bergerak bergelom-bang, dan dengan ukuran sebesar 2 kali leukosit. Akan tetapi trikomonas tidak selalu dapat ditemukan dengan cara pemeriksaan tersebut; bila dianggap perlu, dapat pula dilakukan pembiakan.

KANDIDIASIS                              
Kandidiasis disebabkan oleh infeksi dengan kandida albikalis, suatu jenis jamur gram positif yang mempunyai benang-benang pseudomiselia yang terbagi-bagi  dalam kelompok blastospores, Jamur ini tumbuh baik dalam suasana asam (pH ) (5.0-6.5) yang mengandung glikogen; ia dapat ditemukan dalam mulut, daerah perianal dan vagina tanpa menimbulkan gejala. Ia dapat tumbuh dengan cepatj dan menyebabkan vaginkis pada wanita hamil, wanita yang minum pil kontrasepsi hormonal, wanita yang diberi terapi antibiotika berspektrum luas wanita dengan diabetes, dan wanita dengan kesehatan yang mundur.  
 








Vulvovaginitis   karena   infeksi   dengan   kandida   albikans   menyebabkan  leukorea berwarna keputih-putihan dan perasaan sangat gatal.    
Pada pemeriksaan ditemukan radang vulva.dan vagina, pada dinding sering juga terdapat membran-membran kecil berwarna putih, yang jika diangkat meninggalkan bekas yang agak berdarah.
Diagnosis dibuat dengan cara pemeriksaan seperti pada trikomonas vaginalis; pada sediaan tampak jamur di tengah-tengah leukosit. Dapat pula usapan di atas gelas objek dicat dengan cara Gram jika perlu, dapat pula dilakukan pembiakan.

HEMOFILUS VAGINALIS VAGINITIS
Sembilan puluh persen dari kasus-kasus yang dahulu disebut vaginitis nonspesifik kini ternyata disebabkan oleh hemofilus vaginalis, suatu basil kecil yang gram negatif. Gejala vaginitis ialah leukorea yang berwarna putih bersemu kelabu, kadang-kadang kekuning-kuningan dengan bau yang kurang sedap. Vaginitis ini menimbulkan pula perasaan sangat gatal. Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual.
Diagnosis dibuat dengan cara pemeriksaan seperti yang digambarkan pada pemeriksaan trikomonas vaginalis. Pada sediaan dapat ditemukan beberapa kelompok basil, leukosit yang tidak seberapa banyak, dan banyak sel-sel epitel yang untuk sebagian besar permukaannya berbintik-bintik. Sel-sel ini yang dinamakan clue-cells, merupakan ciri vaginitis yang disebabkan oleh hemofilus vaginalis.
Terapi harus diberikan kepada suami-isteri, berupa ampisillin 2 gram sehari untuk 5 hari, atau jika peka terhadap penisilin  dapat diberikan tetrasiklin. Di samping itu, kepada wanitanya dapat diberi Betadin vaginal douche.

(VULVO) VAGINITIS ATROFIKANS
Sesudah menopause (atau sesudah fungsi ovarium ditiadakan dengan jalan pembedahan atau penyinaran) epitel vagina menjadi atrofis dengan hanya tertinggal lapisan sel basal. Epitel demikian itu mudah kena infeksi, dan radang dapat menjalar ke jaringan di bawah epitel. Penyakit ini menyebabkan leukorea dan rasa gatal dan pedih. Vaginitis ini juga dinamakan vaginitis senilis Urethra dan kandung kencing dapat ikut terlibat dan menimbulkan gejala disuria dan sering kencing.
Terapi terdiri atas pemberian estrogen per os (Premarin 1,25 mg atau Oestro-feminal 1,25 mg) tiap malam dan pemberian dienestrol krem, premarin vaginal cream, atau 0,1 mg suposotorium dietil stilbestrol per vaginam untuk 30 malam. Dewasa ini dapat dianjurkan pemakaian Synapause tablet dan Synapause krim.
 














VAGINITIS EMFISEMATOSA
Penyakit ini jarang terdapat, pada umumnya dijumpai pada wanita hamil. Pada vaginitis ini ditemukan radang dengan gelembung-gelembung kecil berisi gas pada dinding vagina  dan porsio uteri. Penyebab infeksi belum diketahui dan pengobatannya simptomatis.

KELAINAN-KELAINAN LAIN
VULVA

Pruritis vulva
Pruritis vulva atau gatal pada vulva adalah satu gejala yang sangat mengganggu serta mengesalkan penderita, dan sering susah disembuhkan. Perlu dicari sebab pruritis itu; akan tetapi biarpun dilakukah pemeriksaan yang saksama, sebab- sebab itu tidak selalu bisa ditemukan.                        
Sebab-sebab pruritis vulva dapat dibagi dalam 2 golongan:      
1)  pruritis primer atau idiopatik, dan                                                  
2)  pruritis sekunder.
Pada pruritis idiopatik dengan pemeriksaan teliti tidak ditemukan sebab organik; gejala itu dapat dianggap sebagai manifestasi dari gangguan psikopato-logik. Antara lain pada seorang wanita yang mengalami frustasi dalam kehidupan seksual, atau yang ingin menghindarkan diri dari hubungan seksual yang tidak disukai, dapat timbul pruritis vulva.
Termasuk sebab-sebab dari pruritis sekunder ialah:
a) sebab lokal, seperti:
1)      Tiap-tiap proses peradangan dan ulserasi pada kulit vulva;
2)      Distrofi, seperti lichen sklerosus et atrofikans, leukoplaki, kraurosis;
3)      Leukorea karena trikomonas vagmalis, kandida albikans, dan Iain-lain;
4)      Parasit-parasit, seperti skabies, pedikulus kapitis;
5)      Iritasi kulit karena sabun, kurang kebersihan, penggunaan cawet haid yang ketat; 6) karsinoma; dan 7) Iain-lain.
b)      sebab-sebab umum, seperti:
1) keadaan umum yang tidak baik, misalnya kekurangan gizi, avitaminosis, anemia, tuberkulosis, karsinoma;
2) keadaan toksik pada uremia, ikterus;
3) alergi karena makanan, obat-obat;
4) diabetes mellitus; dan lain-lain.


Penanganan
Yang paling penting ialah menemukan sebabnya, agar dapat diberi terapi kausal. Jika perlu, dapat dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui ada tidaknya anemia, pemeriksaan lambung terhadap akhlorhidria, pemeriksaan gula darah (sebaiknya dilakukan tes toleransi glukosa), dan biopsi. Lebih dari 80% sebab dapat diketahui, akan tetapi 15—20% sebabnya tidak jelas. Dalam hal ini terapi bersifat simptomatis (terapi ini dilakukan pula sebagai terapi tambahan pada kasus-kasus dengan sebab yang jelas). Terapi ini terdiri antara lain atas:
1)      Kebersihan yang baik, dengan menghindarkan celana dalam yang ketat dan pemakaian sabun atau obat-obat yang dapat menimbulkan iritasi (sebaiknya menggunakan sabun bayi);
2)      Khususnya jika ada dugaan terhadap alergi, diberi antihistamin;
3)      Pemberian salep-salep yang mengandung 1/2 — 1% hidrokortison (salep-salep ini dipakai terus-menerus karena hidrokortison mempunyai
pengaruh vasokonstriksi terhadap pembuluh-pembuluh darah di subkutis dan
dapat menimbulkan atrofi kulit;
4)      mengusahakan supaya penderita dapat tidur nyenyak waktu malam; dan 5) menjauhkan penderita dari keadaan-keadaan yang merupakan tekanan jiwa.
Terapi endokrin mempunyai kegunaan, terutama jika ada kurangan
estrogen, seperti pada Wanita pasca menopause. Garukan terus-menerus dapat
menimbulkan lichenifikasi pada kulit. Jika itu terjadi, kadang-kadang terpaksa
dilakukan vulvektomi untuk membebaskan penderita dari pruritisnya.        

Distrofi epitel menahun
Kraurosis vulva
Pada penyakit ini terdapat atrofi dengan penipisan dan fibrosis kulit vulva mengakibatkan mengkerutnya kulit dan stenosis introitus vagina. Labia minora, klitoris, dan vestibulum terlibat, akan tetapi tidak sampai pada lipatan genitokrural dan perineum. Tampaknya daerah yang terkena kering dan mengkilat, dan berwarna putih sampai kemerah-merahan. Penyakit ini ditemukan kebanyakan pada wanita-wanita sesudah menopause, akan tetapi bisa pula terdapat pada wanita yang lebih muda. Pada pemeriksaan histologik ditemukan
1)      epidermis menipis dan keratinisasi kurang;
2)      di bawah epidermis tampak sekedar infiltrasi sel-sel radang; dan
3)      di subkutis jaringan elastis berkurang dan terdapat degenerasi hialin.
Gejala-gejala krausosis ialah dispareunia dan kadang-kadang disuria. Pruritis .umumnya tidak terdapat dan jika ada, harus dipikirkan adanya leukoplakia. Diagnosis dapat dibuat dengan mengadakan biopsi. Tempi terdiri atas pemberian salep yang mengandung estrogen. Oleh beberapa penulis di Eropa kraurosis dianggap sinonim dengan leukoplakia, oleh karena pada leukoplakia terdapat pula stadium atrofi.

Leukoplakia vulva               
Kulit vulva yang terkena kelainan ini menjadi tebal, keras, putih, dan rapuh, sehingga dapat menimbulkan luka-luka kecil di tempat yang bersangkutan.
Penyakit ini ditemukan pada labia dan jarang melewati perineum; vestibulum
dan introitus vagina tidak terlibat.                                                       
Leukoplakia mulai sebagai proses proliferasi, kemudian ada kemungkinan  terjadinya atrofi pada epitel, tetapi ada kemungkinan pula bahwa proses menuju i ke keganasan. Pada leukoplakia dalam stadium proliferasi ditemukan pada pemeriksaan histologik
1)      hiperkeratinisasi lapisan atas epitel;
2)      hiperplasia rete Malpighi dengan di sana-sini penonjolan seperti lidah di korium;
3)      infiltrasi bagian atas korium dengan sel-sel radang dan degenerasi hialin.
Leukoplakia biasanya timbul pada wanita pasca menopause. Gejala-gejalanya ialah rasa nyeri dan pruritis. Diagnosis dibuat dengan mengadakan biopsi. Karena leukoplakia dapat dianggap sebagai suatu kelainan yang dapat berubah menjadi karsinoma, maka terapinya ialah vulvektomi.

Likhen skelerosis et atrofikans
Pada penyakit ini, yang bisa juga timbul pada bagian lain dari tubuh selain pada vulva, terdapat atrofi dan skleroderma. Pada tempat yang terlibat, kulit memutih dan berkilat dengan batas-batas yang jelas. Kelainan terdapat pada labia, perineum, dan daerah perianal serta dapat menjalar kelipatan genitokrural sampai ke paha dan pantat. Labia minora, klitoris, dan kadang-kadang introitus ikut dalam proses, sehingga menyebabkan stenosis introitus vagina dan dispareunia.
Pada pemeriksaan histologik tampak atrofi epidermis dan tidak ditemukan hiperkeratinisasi. Pada korium terdapat infiltrasi dengan sel-sel radang dan degenerasi hialin. Gejala-gejalanya ialah rasa nyeri, dispareunia, disuria, dan pruritis. Diagnosis dibuat dengan jalan biopsi. Tetapi dengan salep yang mengandung estrogen cukup memuaskan. Sebagai kesimpulan dari 3 kelainan, yang termasuk sebagai distrofi epitel menahun, dapat dikemukakan :
a)  pada ketiga kelainan itu dapat ditemukan atrofi epitel; pada leukoplakia
dapat pula dijumpai hipertrofi dan hiperplasia;
b)  dalam 50% dari semua kasus, leukoplakia merupakan stadium prakanker;
c)  gejala yang menonjol pada leukoplakia ialah pruritis;
d) walaupun kemungkinan  timbulnya  karsinoma  yang paling  besar pada
leukoplakia, sebaiknya pada semua kasus distrofi epitel menahun dilakukan
biopsi. Tindakan ini perlu dilakukan di beberapa tempat.

Kelainan pada urethra
Urethra tidak termasuk bagian dari traktus genitalis; tetapi orifisium urethra eksternum terdapat pada vestibulum, dan penyakit-penyakit pada urethra melibatkan alat-alat genital. Termasuk kelainan-kelainan urethra bukan radang ialah:
Divertikulum                                    
Pivertikulum urethra ialah suatu kantong kecil, biasanya di bagian posterior dari urethra, dengan saluran yang menghubungkannya dengan urethra. Sebab-sebabnya ialah:
a) kelainan bawaan:
b) abses glandula paraurethralis yang memecah ke urethra; dan
c) akibat perlukaan obstetrik atau pembedahan.
Gejala-gejalanya ialah disuria dan kadang-kadang dispareunia. Pada pemeriksa­an tampak penonjolan dinding vagina ke belakang di tempat yang bersangkut­an, yang menjadi kempes. pada tekanan dengan pengeluaran cairan dari orifisium urethra eksternum. Terapi terdiri atas eksisi kantong tersebut dan jahitan luka pada dinding urethra dengan seksama.

Karunkula urethra
Ditemukan 2 bentuk karunkula. Yang pertama merupakan suatu polip kecil dengan tangkai di pinggir belakang ostium urethra eksternum,. dan berwarna
merah. Benda tersebut biasanya terdapat sesudah menopause, nyeri pada
perabaan, dan menyebabkan disuria. Terapi adalah fulgurasi setelah pemeriksaan histologik tidak menunjukkan keganasan, yang sebenarnya jarak ditemu­
kan.    
Jenis kedua yang lebih sering terdapat ialah reaksi terhadap infeksi menahun. Benda itu berwarna merah, tidak bertangkai, dan berhubungan lebar dengan bagian belakang ostium urethra eksternum. Umumnya karunkula ini tidak menimbulkan banyak keluhan. Terapi hendaknya ditujukan terhadap infeksi, dan jika perlu  dilakukan eksisi.

VAGINA
Kodiloma ini merupakan daerah yang kasar pada dinding vagina dan pada pemeriksaan histologik ditemukan bahwa epitel skusmosa diganti atau ditutupi oleh epitel torak, yang mengeluarkan mucus.
Akhir-akhir ini ditemukan bahwa dari tempat-tempat tersebut dapat tumbuh tumor ganas, yakni clear cell adenocarcinoma. Tumor ini terdapat pada wanita yang ibunya waktu mengangdung mereka, mendapat pengobatan dengan dietilbesterol pada triwulan pertama kehamilannya.

Vulvovaginitis gonoroika pada anak-anak
Kejadian ini umumnya jarang  anak-anak biasanya terkena infeksi karena
komtaminasi dari orang tuanya yang menderita penyakit tersebut. 
Pada anak-anak penyakit ini terbatas pada vulva dan sepertiga bagian bawah
vagina; serviks jarang sekali terkena infeksi. Jarang dijumpai komplikasi berat
pada vulvovaginitis gonoroika pada anak-anak; demikian julga jarang dijumpai
salpingitis, arthritis, dan septikemia. Penyakit ini dapat menyebar dari vagina kerektum dan mengakibatkan proktitis. Oftalmia gonoroika dapat terjadi sebagai
komplikasi yang berat; biasanya ini terjadi melalui tangan.              
Pada vulvovaginitis sekret menyebabkan iritasi dan maserasi epitel vulva dan vagina yang tipis. Dalam hal itu pasien merasa nyeri pada daerah yang terkena penyakit, yang akan bertambah nyeri lagi kalau dibawa berjalan. Biasanya sianak menderita disuria dan sering-sering kencing.        
Umumnya gejala seluruh penyakit ini lokal saja dan keadaan umum anak
tetap baik. Diagnosis ditentukan dengan menemukan gonokokkus pada secret vagina. Kultur perlu dibuat sebab Neisseria kataralis atau Neisseria sikka juga
menunjukkan diplokokkus intraseluler yang gram negatif.             
Cara penanganan vulvovaginitis gonoroika pada anak-anak adalah sebagai berikut: Daerah genital harus dijaga kebersihannya dengan mencucinya beberapa kali sehari. Pengobatan dengan estrogen sekarang ditinggalkan setelah adanya obat sulfa dan penisillin, yang jauh lebih efektif. Pada masa ini penisillin adalah obat yang paling sering dipakai. Obat-obat sulfa dipakai hanya pada kasus-kasus dimana kuman-kumannya sudah resisten terhadap penisilin, tetapi masih peka terhadap sulfa. Dosis penisilin biasanya disesuaikan dengan berat badan anak, yaitu 120 mg/kg berat badan dengan suntikan intramuskulus. 

No comments:

Post a Comment