Powered By Blogger

Monday, June 4, 2012

KONTRASEPSI SUNTIK


Kontrasepsi suntik adalah suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang diberikan melalui suntikan. Jenisnya hanya hormon progesterone (Depo Provera 100 mg, Depo Progestin 150 mg, Noristerat 200 mg).
a.      Mekanisme Kerja Komponen Progesteron atau Derivat Testosteron
§  Menghalangi pengeluaran FSH &LH sehingga tidak terjadi pelepasan ovum
§  Mengentalkan lendir serviks, sehingga sulit ditembus spermatozoa
§  Kontrasepsi terhambat karena perubahan peristaltic tuba fallopi
§  Mengubah suasana endometrium, sehingga tidak sempurna untuk implantasi hasil konsepsi
b.      Macam-macam Kontrasepsi Suntik
1)      Kontrasepsi Suntik Kombinasi
Kontrasepsi suntik ini mengandung hormon estrogen dan progestin yaitu 25 mg depo medrooksiprogesteron asetat dan 5 mg estradiol sipionat, yang berisikan injeksi IM, sebulan sekali (cyclofem) dan 50 mg noretindron enantat dan 5 mg estradiol valerat yang diberikan injeksi IM sebulan sekali.
a)      Efektivitas
Efektivitas dari kontrasepsi suntik ini adalah sekitar 0,1 – 0,4 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama penggunaan.
b)      Keuntungan
§  Menimbulkan perdarahan teratur setiap bulan
§  Mengurangi nyeri pada haid
§  Kurang menimbulkan perdarahan banyak atau perdarahan ireguler lainnya
§  Kurang menimbulkan amenore
§  Efek samping lebih cepat menghilang setelah suntikan dihentikan
c)      Kerugian
§  Penyuntikan lebih sering
§  Biaya keseluruhan lebih tinggi
§  Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan pada penyuntikan pertama dan kedua
§  Penambahan BB
d)     Indikasi
§  Usia reproduksi
§  Menyusui ASI pasca persalinan > 6 bulan
§  Pasca persalinan dan tidak menyusui
§  Anemia
§  Nyeri haid hebat dan haid teratur
§  Sering lupa minum pil kontrasepsi
§  Riwayat kehamilan ektopik
e)      Kontra Indikasi
§  Hamil atau diduga hamil
§  Menyusui dibawah 6 minggu pasca persalinan
§  Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
§  Penyakit hati akut (virus Hepatitis)
§  Usia > 35 tahun yang merokok
§  Riwayat penyakit jantung, stroke atau dengan tekanan darah tinggi ( >180/110 mmHg).
§  Riwayat kelainan tromboemboli atau dengan kencing manis > 20 tahun
§  Kelainan pembuluh darah yang menyebabkan sakit kepala atau migren
§  Kaganasan payudara

f)       Waktu Mulai Menggunakan Suntikan Kombinasi
§  Suntikan pertama dapat diberikan dalam waktu 7 hari siklus haid
§  Bila suntikan pertama diberikan setelah hari ke 7 siklus haid, klien tidak boleh melakukan hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan kontrasepsi lain untuk 7 hari.
§  Bila klien tidak haid, suntikan pertama dapat diberikan setiap saat, asal saja dapat dipastikan ibu tersebut tidak hamil.
§  Bila klien pasca persalinan 6 bulan, menyusui, serta belum haid, suntikan pertama dapat diberikan , asal saja dipastikan tidak hamil.
§  Bila pasca persalinan > 6 bulan, menyusui, serta telah mendapat haid
§  Bila pasca persalinan 3 minggu dan tidak menyusui
§  Pasca keguguran dapat diberikan dalam waktu 7 hari
§  Ibu yang ingin mengganti kontrasepsi hormonal yang lain dengan kontrasepsi hormonal kombinasi.
g)      Cara Penggunaan
Suntikan kombinasi diberikan setiap bulan dengan suntikan intramuskuler dalam . klien diminta datang setiap 4 minggu. Suntikan ulang dapat diberikan 7 hari lebih awal, dengan kemungkinan terjadi gangguan perdarahan. Dapat juga diberikan selama 7 hari dari jadwal yang telah ditentukan, asal saja diyakini ibu tersebut tidak hamil. Tidak dibenarkan melakukan hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan metode kontrasepsi yang lain untuk 7 hari saja.
h)      Efek Samping yang sering terjadi
§  Gangguan siklus haid & spotting
§  Sakit kepala, nyeri pada payudara
§  Penambahan berat badan
§  Terlambatnya pemulihan kesuburan

i)        Tanda-tanda yang memerlukan perhatian Khusus
§  Nyeri dada hebat atau nafas pendek, kemungkinan adanya bekuan darah di paru atau serangan jantung.
§  Sakit kepala berat atau gangguan penglihatan, kemungkinan terjadi stroke hipertensi atau migren
§  Nyeri tungkai hebat, kemungkinan telah terjadi sumbatan pembuluh darah pada tungkai
§  Tidak terjadi perdarahan atau spotting selama 7 hari sebelum suntikan berikutnya, kemungkinan terjadi kehamilan.
2)      Kontrasepsi Progestin
Kontrasepsi yang berdaya kerja lama yang sekarang banyak dipakai adalah DMPA (Depo Medroxy Progesterone Asetat) yang lazim ddisebut Depo Provera dan Net-En (Norethindrone Enanthate) yang lazim disebut Noristerat. Depo provera diberikan dengan dosis 150 mg, sedangkan noristerat dengan dosis 200 mg noretindron enantat.
a)      Efektivitas
Kedua kontrasepsi suntik tersebut memiliki efektivitas yang tinggi dengan 0,3 kehamilan per 100 perempuan  pertahun.

b)      Keuntungan
§  Sangat efektif dan merupakan pencegahan kehamilan jangka panjang
§  Tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah.
§  Tidak berpengaruh terhadap ASI
§  Efek sampingnya sedikit
§  Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai premenopause
§  Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik menurunkan kejadian penyakit jinak payudara
§  Mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul
§  Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle cell).
c)      Kerugian
§  Perdarahan bercak atau perdarahan spotting
§  Amenorea
§  Kenaikan berat badan
d)     Indikasi
§  Usia reproduksi
§  Setelah melahirkan dan tidak menyusui
§  Setelah abortus atau keguguran
§  Perokok
§  Tekanan darah < 180/110 mmHg, dengan masalah gangguan pembekuan darah atau anemia bulan sabit.
§  Menggunakan obat untuk epilepsy (Fenotoin dan Garbiturat) atau obat tuberkolosis (rifampisin)
§  Tidak dapat memakai kontrasepsi yang mengandung estrogen
§  Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi
§  Anemia defisiensi besi
§  Mendekati menopause yang tidak mau atau tidak boleh menggunakan pil kontrasepsi kombinasi
e)      Kontra Indikasi
§  Hamil atau dicurigai hamil
§  Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
§  Tidak dapat menerima gangguan haid (amenore)
§  Penderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara
§  Diabetes mellitus diserta komplikasi

f)       Waktu mulai menggunakan Suntikan Progestin
§  Setiap saat selama siklus haid, asal ibu tersebut tidak hamil.
§  Pada ibu yang tidak haid atau perdarahan tidak teratur, dipastikan juga ibu tidak hamil
§  Ibu yang menggunakan kontrasepsi  hormonal lain dan ingin ganti dengan kontrasepsi suntikan
§  Ibu yang menggunakan kontrasepsi nonhormonal lain dan ingin ganti dengan kontrasepsi suntikan
g)      Cara Menggunakan kontrasepsi suntik
Kontrasepsi ini diberikan secara IM, untuk DMPA diberikan setiap 3 bulan sekali, untuk Noristerat diberikan 8 minggu untuk 3 penyuntikan pertama, mulai untuk penyuntikan ke-5 berikutnya diberikan 12 minggu.
h)      Efek samping  yang terjadi
§  Gangguan siklus haid
§  Pusing atau sakit kepala
§  Kenaikan berat badan
i)        Tanda-tanda yang memerlukan perhatian khusus
§  Penyakit hati akut
§  Penyakit jantung
§  Stroke 
»»  Baca Selengkapnya....

ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM


Salah satu metode kontrasepsi jangka panjang yang digunakan oleh masyarakat adalah AKDR, untuk memahami tentang AKDR berikut ini akan dibahas tentang pengertian AKDR, jenis AKDR, mekanisme kerja, efektivitas, indikasi pemasangan, kontra indikasi, keuntungan, kerugian, pemasangan AKDR, periksa ulang AKDR, efek samping dan komplikasi serta pengeluaran AKDR.

1.      Pengertian AKDR
AKDR adalah bahan inert sintetik (dengan atau tanpa unsur tambahan untuk sinergi efektifitas) dengan berbagai bentuk dipasangkan ke dalam rongga rahim untuk menghasilkan efek kontraseptif (Saifuddin, 2003), sedangkan definisi AKDR menurut BKKBN (2000) adalah jenis alat kontrasepsi yang terkuat dari bahan plastik halus, lembut dan lentur yang diletakkan dalam rongga rahim.

2.      Jenis AKDR
Menurut Mochtar (1998), saat ini AKDR telah memasuki era generasi keempat, karena itu berpuluh macam AKDR telah dikembangkan mulai dari generasi pertama yang terbuat dari benang sutera dan logam sampai pada generasi plastik (polietilen) baik yang tidak ditambahi obat (unmedicated) maupun yang dibubuhi obat (Medicated).
a.       Menurut bentuknya AKDR dibagi menjadi :
1)      Bentuk terbuka (open device), misalnya lippes loop, Cu-T, Cu-7, Margulies, Spring coil, multiload, Nova – T dan lainnya.
2)      Bentuk tertutup (closed device), misalnya ota ring, antigen, grafenberg ring, hall stone ring.
b.      Menurut tambahan obat atau metal :
1)      Medicated AKDR, misalnya Cu-T 200, 220, 300, 380A, Cu-7, Nova-T Ml-Cu 250, 375, progestasert.
2)      Unmedicated AKDR, misalnya lippes loop, margulies, saf-T coil, antigon.
AKDR yang banyak di pakai di Indonesia dewasa ini dari jenis unmedicated adalah lippes loop dan yang dari jenis medicated Cu-T, Cu-7 multiload, dan Nova-T.

3.      Mekanisme Kerja AKDR
Menurut Hartanto (2003), mekanisme kerja AKDR adalah :
a.       Timbulnya reaksi radang lokal yang non spesifik di dalam cavum uteri sehingga implantasi sel telur yang telah di buahi terganggu. Disamping itu dengan munculnya lekosit PMN, makrofag, foreign body giant cells, sel mononuclear dan sel plasma yang dapat mengakibatkan lysis dari spermatozoa atau ovum dan blastocyst.
b.      Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan terhambatnya implantasi.
c.       Gangguan atau terlepasnya blastocyst yang telah berimplantasi di dalam endometrium.
d.      Pergerakan ovum yang bertambah cepat di dalam tuba falopii.
e.       Immobilisasi spermatozoa saat melewati cavum uteri.
f.       Dari penelitian-penelitian terakhir disangka bahwa AKDR juga mencegah spermatozoa membuahi sel telur (mencegah fertilitas).
g.      Untuk AKDR yang mengandung Cu :
1)      Antagonisme yang spesifik terhadap Zn yang terdapat dalam enzim carbonic anhydrase, sehingga tidak memungkinkan terjadinya implantasi dan mungkin juga menghambat aktifitas alkali phosphatase.
2)      Mengganggu pengambilan estrogen endogenelis oleh mucosa uterus.
3)      Mengganggu jumlah DNA dalam sel endometrium.
4)      Mengganggu metabolisme glikogen.
h.      Untuk AKDR yang mengandung hormon progesteron :
1)      Gangguan proses pematangan proliferatif-skretoir sehingga timbul penekanan terhadap endometrium dan terganggunya proses implantasi (Endometrium tetap berada dalam fase decidual atau progestational).
2)      Lendir serviks yang menjadi lebih kental atau tebal karena pengaruh progestin.
Dari uraian di atas, maka AKDR tampaknya tidak mencegah ovulasi dan menggangu corpus luteum.

4.      Efektifitas AKDR
Menurut Mochtar (1998), efektifitas AKDR cukup tinggi untuk mencegah kehamilan dalam jangka waktu yang lama. Angka kehamilan AKDR berkisar antara 1,5 – 3 per 100 wanita pada tahun pertama dan angka ini akan menjadi lebih rendah untuk tahun – tahun berikutnya.
Hartanto (2003), mengemukakan tentang efektifitas AKDR yaitu :
a.       Efektifitas dari AKDR dinyatakan dalam angka kontinuitas (continuit on rate) yaitu berupa lama AKDR tetap tinggal in-utero tanpa ekspulsi spontan, terjadinya kehamilan dan pengangkatan atau pengeluaran karena alasan-alasan medis atau pribadi.
b.      Efektifitas dari bermacam-macam AKDR tergantung pada : AKDR nya yaitu ukuran bentuk, mengandung Cu atau progesteron dan akseptor yaitu umur, paritas dan frekuensi senggama.
c.       Dari faktor-faktor yang berhubungan dengan akseptor yaitu umur dan paritas, diketahui :
1)      Makin tua usia, makin rendah angka kehamilan, ekspulsi dan pengangkatan atau pengeluaran AKDR.
2)      Makin muda usia, terutama pada nulligravid, makin tinggi angka ekspulsi dan pengangkatan atau pengeluaran AKDR.
d.      Dari uraian di atas maka use-effectiveness dari AKDR tergantung pada variabel administratif, pasien dan medis termasuk kemudahan insersi pengalaman pemasang, kemungkinan ekspulsi dari pihak akseptor, kemampuan akseptor untuk mengetahui terjadinya ekspulsi, kemudahan akseptor untuk mendapatkan pertolongan medis.

5.      Indikasi Pemasangan AKDR
Menurut Mochtar (1998), pemasangan AKDR untuk tujuan kontrasepsi dapat dilakukan pada wanita yang :
a.       Telah mempunyai anak hidup satu atau lebih.
b.      Ingin menjarangkan kehamilan.
c.       Sudah cukup anak hidup, tidak mau hamil lagi, namun takut atau menolak cara permanen (kontrasepsi mantap).
d.      Tidak boleh atau tidak cocok memakai kontrasepsi hormonal (menghidap penyakit jantung, hipertensi, hati).
e.       Berusia di atas 35 tahun, dimana kontrasepsi hormonal dapat kurang menguntungkan.
6.      Kontra Indikasi
Menurut Saifuddin (2003), yang tidak diperkenankan menggunakan AKDR :
a.       Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil).
b.      Perdarahan vagina yang tidak diketahui.
c.       Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis).
d.      Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus septik.
e.       Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat mempengaruhi kavum uteri.
f.       Penyakit trofoblas yang ganas.
g.      Diketahui menderita TBC pelvik.
h.      Kanker alat genital.
i.        Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.

7.      Keuntungan AKDR
Menurut Saifuddin (2003), keuntungan AKDR meliputi :
a.       Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi 0,6 - 0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125 – 170 kehamilan).
b.      AKDR dapat efektif segera setelah persalinan.
c.       Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu di ganti).
d.      Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat.
e.       Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil.
f.       Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT-380A.
g.      Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.
h.      Dapat di pasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak terjadi infeksi).
i.        Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir).
j.        Tidak ada interaksi dengan obat-obat.
k.      Membantu mencegah kehamilan ektopik.

8.      Kerugian AKDR
AKDR bukanlah alat kontrasepsi yang sempurna, sehingga masih terdapat beberapa kerugian. Kerugian AKDR menurut Manuaba (1998) :
a.       Masih terjadi kehamilan dengan AKDR insitu.
b.      Terdapat perdarahan, spothing dan menometroragia.
c.       Leukore, sehingga menguras protein tubuh dan liang senggama terasa lebih basah.
d.      Dapat terjadi infeksi dan kehamilan ektopik.
e.       Tali AKDR dapat mengganggu hubungan seksual.

9.      Pemasangan AKDR
Saifuddin (2003), mengemukakan bahwa sebagian besar masalah yang berkaitan dengan AKDR (ekspulsi infeksi dan perforasi) disebabkan oleh pemasangan yang kurang tepat. Oleh karena itu hanya petugas klinik yang telah dilatih (dokter, bidan dan perawat), yang diperbolehkan memasang maupun mencabut AKDR, untuk mengurangi masalah yang timbul setelah pemasangan semua tahap proses pemasangan harus dilakukan dengan hati-hati dan lembut, dengan menggunakan upaya pencegahan infeksi yang dianjurkan.
Waktu pemasangan AKDR yang baik adalah dalam keadaan :
1)      Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil.
2)      Hari pertama sampai ke-7 siklus haid.
3)      Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pasca persalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenore laktasi (MAL). Perlu diingat angka ekspulsi tinggi pada pemasangan segera atau selama 48 jam pasca persalinan.
4)      Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7 hari ) apabila tidak ada gejala infeksi.
5)      Selama 1 sampai 5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi.

10.  Periksa ulang AKDR
Menurut Manuaba (1998), menyatakan jadwal pemeriksaan ulang AKDR sebagai berikut :
a.       Dua minggu setelah pemasangan.
b.      Satu bulan setelah pemeriksaan pertama.
c.       Tiga bulan setelah pemeriksaan kedua.
d.      Setiap 6 bulan sampai 1 tahun.
11.  Efek samping dan komplikasi
Menurut Mochtar (1998), efek samping dari penggunaan AKDR adalah :
a.       Nyeri dan mulas
Biasanya terjadi sehabis insersi AKDR, yang pada umumnya akan hilang dalam beberapa hari sampai beberapa minggu.
b.      Perdarahan
Dapat terjadi perdarahan pasca insersi, bercak di luar haid (spotting) atau perdarahan meno atau metroragia.
c.       Fluor Albus (keputihan).
d.      Dismenorea (Nyeri selama haid).
e.       Disparenia (Nyeri sewaktu koitus).
f.       Ekspulsi (AKDR keluar dengan sendirinya)
Sering dijumpai pada masa tiga bulan pertama setelah insersi, setelah satu tahun angka ekspulsi akan berkurang. Biasanya terjadi sewaktu sedang haid.
g.       Infeksi
Radang panggul dijumpai pada sekitar 2% akseptor pada tahun pertama pemakaian, namun infeksi ini bersifat ringan.
h.      Embedment (AKDR tertanam dalam dinding rahim).
i.        AKDR dapat tertanam ke dalam mukosa rahim atau terletak lebih dalam sebagian (parsial) atau seluruhnya (komplit).

12.  Pengeluaran AKDR
Menurut Mochtar (1998), pengeluaran AKDR dilakukan atas berbagai indikasi :
a.       Indikasi medis :
1)      Perdarahan yang hebat atau berlangsung lama.
2)      Nyeri hebat.
3)      Hamil dengan AKDR insitu.
4)      Peradangan panggul.
5)      Infeksi dan sebagainya.
b.       Atas permintaan suami isteri.
c.       AKDR telah kadaluarsa.
d.      Translokasi AKDR.
Tukar atau pindah cara kontrasepsi lain
»»  Baca Selengkapnya....

KONSEP DASAR PREEKLAMSIA



2.2.1. Batasan Preeklampsia
Preeklampsia merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi setelah minggu ke-20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. (Bobak , 2004)
Preeklampsi ialah penyakiy dengan tanda-tanda hipertensi, edema dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke-3 kehamilan. Tetapi dapat terjadi sebelumnya, misalnya pada mola hidatidosa.
2.2.2. Etiologi Preeklampsia
Sampai saat ini, etiologi pasti dari Peeeklampsia atau eklampsi belum diketahui. Ada beberapa teori mencoba menjelaskan perkiraan etiologi dari kelainan tersebut diatas, sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai the disease of theory. Adapun teori-teori tersebut antara lain :
2.2.2.1. Peran protasiklin dan tromboksan
Pada preeklampsia dan eklampsia didapatkan kerusakan pada endotel vaskuler, sehingga terjadi penurunan prostasiklin (PGI2) yang pada kehamilan normal meningkat, aktivasi penggumpalan dan fibrinolisis, yang kemudian akan diganti dengan trombin dan plasmin. Trombin akan mengkonsumsi antitrombin III sehingga terjadi deposit fibrin. Aktivasi trombosit menyebabkan pelepasan tromboksan (TxA2) dan serotonin, sehingga terjadi vasospasme dan kerusakan endotel.
2.2.2.2. Peran faktor Imunologis
Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbul lagi pada kehamilan berikutnya. Hal ini dapat diterangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentuka blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada kehamilan berikutnya.
2.2.2.3. Peran faktor Genetik/famili
Beberapa bukti menunjukkan peran faktor genetik pada kejadian preeklampsia dan eklampsia antara lain :
a. preeklampsia hanya terjadi pada manusia.
b. terdapatnya kecenderungan meningkatnya frekuensi preeklampsi dan eklampsi pada anak-anak dari ibu yang menderita preeklampsi dan eklampsi.
c. kecenderungan meningkatnya meningkatnya frekuensi preeklampsi dan eklampsi pada anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat preeklampsi dan eklampsi.
d. peran Renin Angiostensin Aldosteron System (RAAS)
2.2.3. Patologi Preeklampsia
Preeklampsia ringan jarang sekali menyababkan kematian ibu. Oleh karena itu, sebagian besar pemeriksaan anatomi-patologi berasal dari penderita eklampsia yang meninggal. Pada penyelidikan akhir-akhir ini dengan biopsi hati dan ginjal ternyata bahwa perubahan anatomi-patologi pada alat-alat itu pada penderita preeklampsia tidak banyak berbeda daripada yang ditemukan pada eklampsia. Perlu dikemukakan disisni bahwa tidak ada perubahan histopatologik yang khas pada preeklampsia dan eklampsia. Perdarahan, infark, nekrosis dan trombosis pembuluh darah kecil pada penyakit ini dapat ditemukan dalam berbagai alat tubuh. Perubahan tersebut mungkin sekali disebabkan oleh vasospasmus arteriola. Penimbunan fibrin dalam pembuluh darah merupakan faktor penting juga dalam patogenesis kelainan-kelainan tersebut.
2.2.4. Gambaran Klinik Preeklampsia
2.2.4.1. Hipertensi
Gejala yang terlebih dahulu timbul ialah hipertensi yang terjadi secara tiba-tiba, sebagai batas diambil tekanan darah sistolik 140 mmHg dan diastolik 90 mmHg, tapi juga kenaikan sistolik 30 mmHg atau diastolik 15 mmHg diatas tekanan yang biasa merupakan petanda.
Tekanan darah sistolik dapat mencapai 180 mmHg dan diastolik 11o mmHg, tetapi jarang mencapai 200 mmHg. Jika tekanan drah melebihi 200 mmHg maka sebabnya biasanya hipertensi asensial.
2.2.4.2. Oedem
Timbulnya oedem didahului oleh pertambahan berat badan yang berlebihan. Pertambahan berat 0,5 kg pada seseorang yang hamil dianggap normal, tetapi jika mencapai 1kg per minggu atau 3 kg dalam satu bulan , preeklampsi harus dicurigai. Oedem ini tidak hilang dengan istirahat.
2.2.4.3. Proteinuria
Proteinuria didefinisikan sebagai konsentrasi protein sebesar 0.19/L (> positif 2 dengan cara dipstik) atau lebih dalam sekurang-kurangnya dua kali spesimen urin yang dikumpulkan sekurang-kurangnya dengan jarak 6 jam. Pada spesimen urin 24 jam. Proteinuria didefinisikan sebagai suatu konsentrasi protein 0,3 per 24 jam.
2.2.4.4. Gejala-gejala subyektif
a. sakit kepala yang keras karena vasospasmus atau oedem otak.
b. nyeri ulu hati karena regangan selaput hati oleh haemorhagia atau oedem atau sakit karena perubahan pada lambung.
c. gangguan penglihatan, penglihatan menjadi kabur. Gangguan ini disebabkan karena vasospasme, oedem atau ablasioretina.


2.2.5. Klasifikasi Preeklampsia
2.2.5.1. Preeklampsia ringan.
a. tekanan darah sistolik 140 mmHg atau kanaikan 30 mmHg dengan interval pemeriksaan 6 jam.
b. tekanan darah diastolik 90 mmHg dengan interval pemeriksaan 6 jam.
c. kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam satu minggu.
d. proteinuria 0,3 gr atau lebih dengan tingkay kualifikasi positif 1 sampai positif 2 pada urin kateter atau urin aliran tengah.
2.2.5.2. Preeklampsia berat
Bila salah satu diantara gejala atau tanda diketemukan pada ibu hanil sudah dapat digolongkan preeklampsia berat :
a. tekanan darah 160/110 mmHg.
b. oliguria, urin kurang dari 400cc/24jam.
c. proteinuria lebih dari 0.3 gr/liter.
d. keluhan subyektif ; nyeri epigastrium, gangguan penglihatan, nyeri kepala, oedem paru dan sianosis, serta gangguan kesadaran.
e. Pemeriksaan ; kadar enzim hati meningkat disertai ikterus, perdarahan pada retina dan trombosit kurang dari 100.000/mm
Peningkatan gejala dan tanda preeklampsia berat memberikan petunjuk akan terjadi eklampsia. Preeklamsia pada tingkat kejang disebut eklampsia.


2.2.6. Diagnosis Preeklampsia
Diagnosis dini harus diutamakan bila diinginkan angka morbiditas dan mortalitas rendah bagi ibu dan bayinya. Walaupun terjadinya preeklampsia sulit dicegah, namun preeklampsia dan eklampsia umumnya dapat dihindari dengan mengenal secara dini penyakit itu dengan penanganan sedini mungkin.
Pada umumnya diagnosis preeklampsia didasarkan atas adanya dua dari trias tanda utama yaitu ; hipertensi, oedem dan proteinuria. Hal ini memang berguna untuk kepentingan statistik, tetapi dapat merugikan penderita karena tiap tanda dapat merupakan petanda meskipun ditemukan tersendiri. Adanya satu tanda harus menimbulkan kewaspadaan karena perkembangan penyakit tidak dapat diramalakan dan bila eklampsi terjadi, maka prognosis bagi ibu maupun janin jauh lebih buruk. Tiap kasus preeklampsi harus ditangani dengan sungguh-sungguh.
Diagnosis diferensial antara preeklampsi dengan hipertensi menahun atau penyakit ginjal tidak jarang menimbulkan kesulitan. Pada hipertensi menahun adanya tekanan darah yang meninggi sebelum hamil, pada kehamilan muda atau 6 bulan postpartum akan sangat berguna untuk membuat diagnosis. Pemeriksaan fundoskopi juga berguna karena perdarahan dan eksudat jarang ditemukan pada preeklampsia, kelainan tersebut biasanya menunjukkan hipertensi menahun. Untuk diagnosis penyakit ginjal saat timbulnya proteinuria banyak menolong, proteinuria pada preeklampsi jarang timbul sebelum triwulan ke-3, sedangkan pada penyakit ginjal timbul lebih dahulu. Test fungsi ginjal juga banyak berguna, pada umumnya fungsi ginjal normal pada preeklampsia ringan.


2.2.7. Penanganan Preeklampsia
2.2.7.1. Preeklampsia ringan
a. jika kehamilan < 37 minggu dan tidak ada tanda-tanda perbaikan, lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan :
§ pantau tekanan darah, proteinuria, reflek patela dan kondisi janin
§ lebih banyak istirahat
§ diat biasa
§ tidak perlu diberi obat-obatan
§ jika dirawat jalan tidak mungkin, rawat di rumah sakit :
- diet biasa
- pantau tekanan darah 2 kalisehari, proteinuria 1 kali sehari
- tidsak perlu obat-obatan
- tidak perlu diuretik, kecuali terdapat oedem paru atau gagal ginjal akut
- jika tekanan distolik turun sampai normal pasien dapat dipulangkan, nasehatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda preeklampsi berat, kontrol 2 kali seminggu, jika tekanan darah diastolik naik lagi, rawat kembali.
- Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan, tetap dirawat.
- Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan.
- Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai preeklampsia berat.
b. jika kehamilan > 37 minggu, pertimbangkan terminasi
- jika serviks matang lakukan induksi dengan oksitosin 5 IU dalam 500ml dekstrose IV 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin.
- Jika serniks belum matang, berikan prostaglandin, misoprostol atau kateter foley atau terminasi dengan seksio sesarea.


2.2.7.2. Preeklampsia berat dan eklampsia
Penanganan preeklampsia berat dan eklampsia sama, kecuali bahwa persalina harus berlangsung dalam 12 jam setelah timbulnya kejang pada preeklampsia.
a. penanganan kejang
- berikan obat anti konvulsan
- perlengkapan untuk penanganan kejang ( jalan nafas, sedotan, masker oksigen, dan oksigen )
- lindungi pasien dari kemungkinan trauma
- aspirasi mulut dan kerongkongan
- baringkan pasien pada sisi kiri, posisi tredelenburg untuk mengurangi aspirasi.
- Beri oksigen 4-6 liter per menit
b. penangan umum
- jika tekanan diastolik > 110 mmHg, berikan antihipertensi sampai tekanan distolik diantara 90-100 mmHg
- pasang infus ringer laktat dengan jarum besar (16 gauge >1)
- ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload
- kateterisasi urin untuk pengeluaran volume dan protein
- jika jumlah urin < 30 ml per jam ; infus cairan dipertahankan 1 1/8 jam, pantau kemungkinan oedem paru
- jangan tinggalkan pasien sendirian, kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan kamatian ibu dan janin
- observasi tanda-tanda vital, refleks patela dan denyut jantung janin setiap jam.
- Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda oedem paru. Jika ada oedem paru stop pemberian cairan dan berikan diuretik, misalnya furosemide 40 mg IV
- Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan bedside, jika pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulopati.

»»  Baca Selengkapnya....